Komunikasi yang Dibangun Pemerintah Belum Maksimal | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
Pencegahan Korona I Kasus Positif Melonjak Tajam akibat Libur Panjang

Komunikasi yang Dibangun Pemerintah Belum Maksimal

Komunikasi yang Dibangun Pemerintah Belum Maksimal

Foto : Sumber: Covid19.go.id
A   A   A   Pengaturan Font
Libur panjang telah menyebabkan kasus Covid-19 mengalami kenaikan hingga mencapai 50–100 persen.

 

JAKARTA – Pemerintah melalui Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penangan­an Covid-19, Wiku Adisas­mito, mengakui komunikasi yang sudah dibangun sela­ma ini dalam menangani dan mencegah penularan virus korona baru Covid-19, belum efektif.

“Sampai saat ini masih ada sebagian orang yang tak mem­percayai adanya Covid-19. Ternyata komunikasi yang su­dah kita lakukan belum efek­tif untuk membuat sebagian orang untuk yakin (adanya Co­vid-19),” ujar Wiku dalam kon­ferensi pers di Graha BNPB, Ja­karta, Jumat (4/12).

Hingga Jumat (4/12), total kasus Covid-19 di Tanah Air te­lah menembus 563.680 kasus. Total kasus ini mengalami pe­nambahan 5.803 dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, pasien sem­buh mencapai 466.178 dan meninggal dunia sebanyak 17.479 kasus.

Menurut Wiku, sebagian orang yang tak mempercayai adanya Covid-19 tak melulu berasal dari wilayah yang jauh dari perkotaan. Bahkan, terda­pat juga warga di Jakarta.

“Di jakarta, di kota besar pun masih ada yang tidak per­caya,” ungkap Wiku.

Untuk menyadarkan ma­syarakat, kata Wiku, komuni­kasi yang dibangun perlu ada penyesuaian. Mengingat, In­donesia mempunyai banyak keragaman, baik dari sisi ba­hasa daerah hingga budaya.

Keragaman ini menjadi tan­tangan tersendiri dalam men­yosialisasikan akan bahayanya penyebaran Covid-19.

“Kemampuan kita untuk bisa menyentuh seluruh ma­syarakat dengan budaya yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, itu betul-betul kita sekarang ditantang untuk ber­gerak bersama,” kata Wiku.

Libur Panjang

Selain itu, Wiku mengata­kan adanya libur panjang telah menyebabkan kasus Covid-19 mengalami kenaikan hingga mencapai 50-100 persen.

“Naiknya antara 50 sam­pai lebih dari 100 persen,” ujar Wiku.

Wiku menjelaskan, sejak pandemi Covid-19 terjadi In­donesia, sedikitnya ada tiga agenda libur panjang yang di­jalani masyarakat.

Ketiga agenda libur panjang itu meliputi perayaan Lebaran, perayaan kemerdekaan pada Agusus, dan libur panjang 28 Oktober–1 November.

Dari dampak libur pan­jang ini, kenaikan kasus bah­kan bisa terus terjadi antara 10 sampai 14 hari berikutnya.

Selain itu, kasus tersebut juga bisa bertahan antara satu hingga dua pekan berikutnya.

“Itu selalu polanya seperti itu dan makin ke sini, semakin menggila naiknya, ada 6 ribu, ada 8 ribu,” terang Wiku.

Untuk menekan penularan kasus, Wiku mengingatkan masyarakat agar patuh mene­rapkan protokol kesehatan. Di samping itu, sosialisasi terha­dap penerapan protokol kese­hatan juga perlu digencarkan agar masyarakat betul-betul memahami.

Selain itu, Wiku mengingat­kan perlu kerja sama Satgas Covid-19 daerah dengan ma­syarakat di tingkat RT/RW untuk mendeteksi potensi ke­rumunan masyarakat dalam aktivitas atau acara tertentu.

“Perlu adanya kerja sama sampai tingkat desa atau RT/RW sehingga dapat mendetek­si potensi kerumunan yang ter­jadi,” ujar Wiku.

Pernyataan ini disampai­kannya menanggapi pertan­dingan sepak bola Lapangan Glora Graha Cibogo, Kelurah­an Nyapah, Kecamatan Walan­taka, Kota Serang, Banten, yang dihadiri ribuan orang tanpa mematuhi protokol kesehatan, Rabu (2/12).

Wiku melanjutkan, seharus­nya aparat setempat kooperatif dan transparan soal penye­lenggaraan acara seperti itu, sehingga pemberian izin acara bisa dipertimbangkan.

“Satgas daerah seharusnya mampu mencegah hal ini,” tambah Wiku. n jon/ola/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment