Kebangkitan Kendaraan Listrik Bisa Akhiri Era BBM | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 5 2020
No Comments
Teknologi Ramah Lingkungan

Kebangkitan Kendaraan Listrik Bisa Akhiri Era BBM

Kebangkitan Kendaraan Listrik Bisa Akhiri Era BBM

Foto : AFP/INDRANIL MUKHERJEE
Mobil Ramah Lingkungan - CEO dan Direktur Pelaksana Tata Motors Worldwide bersuka cita saat peluncuran mobil listrik Tata Nexon EV dalam sebuah ajang di Mumbai, India, pada 28 Januari lalu. Lembaga pemantau Carbon Tracker dalam analisis terbarunya pada Jumat (20/11) melaporkan bahwa kebangkitan pasar kendaraan listrik bisa mengakhiri era ketergantungan pada BBM.
A   A   A   Pengaturan Font

 

PARIS – Tren bangkitnya pasar otomotif yang beralih dari kendaraan bermesin yang digerakkan oleh bahan bakar fosil ke kendaraan listrik, bisa menciptakan penghematan sebesar 250 miliar dollar AS per tahun serta akan memangkas perkiraan kebutuhan global atas bahan bakar minyak (BBM) hingga maksimal sebesar 70 persen.

Perkiraan itu diungkapkan oleh lembaga pemantau Carbon Tracker dalam analisis industri terbarunya yang dibeberkan pada Jumat (20/11).

Seiring dengan kian banyaknya negara-negara seperti Tiongkok dan India yang berambisi meningkatkan armada kendaraan listriknya, maka mereka akan semakin mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM apalagi kendaraan listrik diprediksi sebentar lagi akan lebih murah pembuatan dan dikendarai jika dibandingkan kendaraan yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar minyak.

“Tren otomotif yang beralih pada kendaraan listrik, bisa membuat Tiongkok yang merupakan pelopor teknologi saat ini, melakukan penghematan 80 miliar dollar AS per tahunnya pada 2030 mendatang,” demikian bunyi analisis terhadap beban biaya tren penggunaan kendaraan listrik yang dilaporkan Carbon Tracker.

Carbon Tracker juga melaporkan bahwa peningkatan produksi kendaraan listrik akan secara drastis mengurangi biaya impor minyak dan itu berarti menyumbang penghematan 1,5 persen dari PDB Tiongkok dan 2,6 persen dari PDB India.

Analisis Carbon Tracker juga menemukan bahwa revolusi mobil listrik pada dasarnya bisa mendanai dirinya sendiri karena biaya komponen turun dari waktu ke waktu dan pemerintah saat ini akan semakin berpaling dari infrastruktur bahan bakar fosil seperti jaringan pipa dan kilang sehingga menjadikan aset-aset itu berisiko terbengkalai karena sektor transportasi semakin kian ramah lingkungan.

"Ini adalah pilihan sederhana antara meningkatnya ketergantungan pada minyak yang selama ini mahal diproduksi oleh kartel asing, atau listrik dalam negeri yang diproduksi oleh sumber energi baru terbarukan yang harganya turun seiring waktu," kata Kingsmill Bond, pakar strategi energi Carbon Tracker yang juga penulis utama laporan ini. “Kebangkitan importir pasar kendaraan listrik ini nantinya akan mengakhiri era BBM," imbuh dia.

 

Peningkatan Tren

Sektor transportasi di pasar negara berkembang pada 2003 menyumbang lebih dari 80 persen dari semua perkiraan pertumbuhan atas permintaan minyak.

Dengan menganalisis skenario bisnis dan emisi dari International Energy Agency (IAE), laporan Carbon Tracker menemukan bahwa separo dari pertumbuhan itu diperkirakan berasal dari Tiongkok dan India.

Dengan turut memperhitungkan tren peralihan yang didasari Skenario Pembangunan Berkelanjutan IEA, maka kendaraan listrik nantinya akan berkontribusi sebesar 40 persen dari penjualan mobil di Tiongkok dan 30 persen penjualan mobil di India dan oleh karenanya permintaan terhadap minyak akan dipangkas hingga 70 persen sepanjang dekade ini.

Para penulis analisis ini juga mengatakan bahwa penurunan harga baterai sebesar 20 persen dalam satu dekade bisa mendorong pertumbuhan pasar baru yang lebih besar yang bisa semakin meningkatkan tren penggunaan kendaraan listrik. AFP/I-1

 

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment