Keamanan Menjadi “List” Nomor Satu yang Harus Benar-benar Dipenuhi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro, tentang Vaksin Merah Putih

Keamanan Menjadi “List” Nomor Satu yang Harus Benar-benar Dipenuhi

Keamanan Menjadi “List” Nomor Satu yang Harus Benar-benar Dipenuhi

Foto : ANTARA/PUSPA PERWITASARI
A   A   A   Pengaturan Font
Negara-negara tengah berlomba mengembangkan vaksin Covid-19, begitu juga Indonesia. Selain bekerja sama dengan pihak dari luar negeri untuk memenuhi aspek kecepatan, pemerintah juga tengah mengembangkan vaksin Merah Putih secara mandiri oleh beberapa lembaga dalam negeri.

 

Meski begitu, vaksin Merah Putih sendiri belum bisa tersedia dalam waktu dekat. Di sisi lain, vaksin tersebut juga harus benar-benar aman mengin­gat peruntukannya diberikan bagi penduduk di Indonesia.

Untuk mengupas terkait perkembangan vaksin Merah Putih, Koran Jakarta mewawancarai Men­teri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. Berikut petikan wawancaranya.

Sejauh mana pengembangan vaksin Merah Putih untuk penan­ganan Covid-19 saat ini?

Vaksin Merah Putih paling penting definisinya adalah meng­gunakan isolat virus yang ada di Indonesia. Saat ini, ada enam insti­tusi yang mengembangkan vaksin Merah Putih. Institusi yang terlibat dalam pengembangan vaksin Merah Putih, yaitu Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Lem­baga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (UNAIR).

Pada proses pengembangannya, enam institusi tersebut mengem­bangkan vaksin menggunakan platform berbeda. Platform-nya mempertimbangkan kemampuan serta peta pengembangan vaksin yang ada di dunia.

Upaya apa yang dilakukan untuk memasti­kan keamanan vaksin?

Uji klinis ha­rus dilakukan untuk me­mastikan vaksin yang dihasilkan aman. Keamanan itu menjadi list nomor satu yang harus benar-benar dipenuhi. Vak­sin jangan sampai menimbulkan efek samping yang bisa menggang­gu nyawa penggunaannya.

Jadi ketika vaksin diserahkan ke PT Bio Farma, dilakukan uji klinis tahap satu. Itu memastikan keamanan vaksin ketika nanti di­berikan. Di luar negeri ada contoh ketika uji klinis, proses dihentikan sebab ada gejala yang timbul kepada relawannya. Uji klinis dihentikan dulu untuk mengecek apakah gejala itu dari vaksin atau bukan. Kami menerapkan kehati-hatian serupa untuk uji klinis Merah Putih.

Bagaimana strategi untuk memastikan vaksin ini bisa memenuhi kebu­tuhan penduduk Indonesia?

Strategi tidak berhenti hanya di vaksin Covid-19. Kesehatan masyarakat di Indonesia dengan penduduk yang banyak harusnya sudah mengarah ke kese­hatan yang preventif untuk mence­gah seseorang terserang penyakit. Salah satu instrumennya vaksin. PT Bio Farma sudah meningkatkan kapasitas. Tahun ini 100 juta dosis, tahun depan 250 juta dosis.

Selain itu, ada tiga perusahaan swasta yang investasi untuk pengem­bangan vaksin manusia. Mereka su­dah mulai mengurus izin ke BPOM untuk good manufacturing practice atau cara membuat obat yang baik. Kami telah hitung berapa kesanggu­pannya, dari kombinasi tiga itu bisa satu miliar dosis per tahun.

Apa target lain dalam pengem­bangan vaksin Merah Putih?

Indonesia ke depan harusnya bisa jadi produsen vaksin utama di dunia. Kita sekarang fokus dulu ke Covid-19 untuk bisa diproduksi di dalam negeri dan nantinya me­nyediakan vaksin Covid-19. Tidak hanya tahun ini, tapi juga tahun-tahun selanjutnya.

Ada kemungkinan dari prediksi awal Covid-19, daya tahan tubuh kita tidak seumur hidup. Jadi, ada periode daya tahan tubuh turun dan membutuhkan revaksinasi.

Bagaimana penilaian Anda terhadap potensi SDM Indonesia, terutama di bidang penelitin se­lama menangani pandemi ini?

Banyak sekali potensinya. Tal­enta, dedikasi, dan komitmen mer­eka luar biasa. Ini sudah dibuktikan sejak awal pandemi kami membuat konsorsium riset dan inovasi Co­vid-19 dalam mengakomodir per­guruan tinggi, lembaga penelitian, institusi pemerintah, dan industri. Model tersebut dalam waktu tiga bulan sudah memunculkan inovasi yang menutupi kebutuhan urgen. Contohnya, pendeteksian dengan rapid test dan PCR test kit.

n muh ma’arup/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment