Kasus Covid-19 Meningkat Tetapi Menteri Sibuk Urus SWF | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
Pemulihan Ekonomi

Kasus Covid-19 Meningkat Tetapi Menteri Sibuk Urus SWF

Kasus Covid-19 Meningkat Tetapi Menteri Sibuk Urus SWF

Foto : Foto: Istimewa
FAISAL BASRI Ekonom Senior - Pak Presiden, para menteri yang bertanggung jawab dalam penanganan Covid-19 lebih sibuk urusi investasi. Mereka sering ke luar negeri berhari-hari.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Upaya pemerin­tah menangani pandemi Co­vid-19 yang terus melonjak di­pertanyakan karena kasusnya terus meningkat, sementara beberapa menteri yang ber­tanggungjawab malah sibuk mengurusi investasi dengan bolak-balik ke luar negeri.

Kritikan itu disampaikan Ekonom Senior dari Univer­sitas Indonesia, Faisal Basri, dalam cuitannya melalui akun Twitter resmi, @FaisalBasri, pada Kamis (3/12).

“Pak Presiden, para menteri yang bertanggung jawab dalam penanganan Covid-19 lebih sibuk urusi investasi. Mereka sering ke luar negeri berhari-hari,” tutur Faisal.

Faisal menyarankan Presi­den Jokowi membentuk tim purnawaktu agar pandemi cepat selesai. Menurut dia, Presiden tidak dapat berharap sepenuh­nya pada para menteri untuk menangani pandemi karena mereka memiliki tugas yang ba­nyak di luar penangan virus.

“Ini bukan kerja sambilan. Bentuk tim purnawaktu yang profesional dan ahlinya,” tutur Faisal.

Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan In­vestasi, Luhut Binsar Pandja­itan, mengundang Jepang untuk meningkatkan investasi melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Nusantara Investment Au­thority (NIA). Undangan ter­sebut disampaikan langsung Luhut dalam pertemuannya de­ngan Penasihat Perdana Men­teri Jepang, Izumi Hiroto, di Kantor Perdana Menteri Jepang, di Tokyo, Kamis (3/12).

“Tujuan saya dan Menteri Er­ick (Menteri BUMN-red) ke To­kyo adalah untuk mengundang Jepang tingkatkan investasi me­lalui lembaga SWF yang akan di­bentuk berdasarkan amanat UU Omnibus,” kata Luhut.

NIA, jelasnya, akan mem­berikan fleksibilitas bagi inves­tor untuk menanamkan inves­tasi dalam bentuk ekuitas atau aset dengan pengelolaan yang transparan dan profesional.

Turut hadir dalam pertemu­an tersebut Menteri BUMN, Erick Thohir, dan Duta Besar RI untuk Jepang, Heri Akhmadi. Sementara dari pihak Jepang, hadir Gubernur Japan Bank of International Cooperation (JBIC), Maeda Tadashi, dan Dubes Jepang untuk Indonesia, Kanasugi Kenji.

Luhut juga menyampaikan bahwa pemerintah Jepang mela­lui JBIC berjanji untuk ikut parti­sipasi dalam SWF Indonesia.

Mitra Investor

Dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir mengata­kan SWF Indonesia diharapkan dapat menjadi mitra bagi in­vestor asing untuk berinvestasi di sektor-sektor yang atraktif dan prioritas di Indonesia, an­tara lain jalan tol, bandara, dan pelabuhan.

“Kita ingin aset-aset yang di­miliki BUMN dapat dioptimal­isasikan nilainya,” tambah Er­ick seperti dikutip dari Antara.

Sementara itu, Dubes RI un­tuk Jepang, Heri Akhmadi, me­ngatakan secara umum Jepang mendukung pembentukan SWF Indonesia. Ia menyebut bebera­pa kalangan bisnis Jepang pun telah menyatakan ketertarikan­nya untuk berpartisipasi dalam sejumlah proyek.

“Beberapa kalangan bisnis Jepang pun telah menyatakan ketertarikannya untuk berpar­tisipasi dalam pembangunan health tourism di Bali, mana­jemen operator pelabuhan serta meningkatkan investasi di Kawasan Industri Batang,” kata Heri.

Sebelum pertemuan dengan Penasihat PM Jepang, Luhut dan Erick juga telah bertemu dengan Sekjen Partai Liberal Democratic Party (LDP) untuk Majelis Tinggi, Seko Hiroshige, yang juga mantan Menteri Eko­nomi, Perdagangan, dan Indus­tri Jepang, untuk membahas dukungan Parlemen Jepang atas investasi pemerintah dan swas­ta Jepang di SWF Indonesia.

n ers/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment