Kadar Vitamin D yang Lebih Tinggi saat Bayi Bantu Lawan Obesitas pada Masa Remaja | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments

Kadar Vitamin D yang Lebih Tinggi saat Bayi Bantu Lawan Obesitas pada Masa Remaja

Kadar Vitamin D yang Lebih Tinggi saat Bayi Bantu Lawan Obesitas pada Masa Remaja

Foto : Antara
A   A   A   Pengaturan Font

CHICAGO,-- Kadar vitamin D yang rendah selama tahun pertama kehidupan memiliki kaitan yang berbanding terbalik dengan sindrom metabolik pada masa remaja, yang berhubungan erat dengan obesitas, demikian menurut sebuah penelitian yang diunggah di situs Universitas Michigan (UM) pada Kamis (29/10).

Penelitian tersebut menggunakan data 300 lebih anak dari kelompok sekitar 1.800 peserta yang direkrut sejak bayi. Anak-anak dari 50 lingkungan berpenghasilan rendah dan menengah di Santiago, Chile, dipantau hingga remaja untuk penilaian risiko kardiovaskular.

Para peneliti mengukur konsentrasi vitamin D dalam darah pada usia satu tahun dan memeriksa hubungannya dengan indeks massa tubuh (body mass index/BMI) untuk usia pada usia lima, 10, dan 16-17 tahun. Mereka juga mengukur persentase lemak dan massa otot serta skor sindrom metabolik dan komponennya, misalnya lingkar pinggang, tekanan darah, lipida darah, resistansi insulin, pada usia 16-17 tahun.

Mereka menemukan bahwa setiap unit tambahan vitamin D dalam darah anak usia satu tahun terkait dengan peningkatan indeks massa tubuh yang lebih lambat antara usia satu dan lima tahun, skor risiko metabolik yang lebih rendah pada usia 16-17 tahun, dan lemak tubuh lebih rendah serta massa otot lebih banyak pada masa remaja.

Aspek penting lainnya dari penelitian itu adalah bahwa penelitian tersebut dilakukan pada saat faktor risiko kardiovaskular dini pada anak-anak Chile sedang meningkat, sebagian didorong oleh epidemi obesitas di negara yang terletak di Pegunungan Andes itu.

"Fakta bahwa kemungkinan ada anak usia 16 tahun dengan tekanan darah tinggi, profil lipida yang buruk, dan resistansi insulin ini sangatlah serius. Menemukan faktor-faktor yang berpotensi dapat dimodifikasi yang mungkin dapat mengurangi risiko itu bisa sangat berharga," kata penulis senior penelitian Eduardo Villamor, profesor epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat UM.

Sindrom metabolik merupakan sejumlah kondisi seperti gula darah tinggi, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal yang bersama-sama dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, strok, dan diabetes tipe 2.

Penelitian tersebut dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition. Ant/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment