Investor Antusias Menunggu Aturan Turunan UU Cipta Kerja | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
Iklim Investasi

Investor Antusias Menunggu Aturan Turunan UU Cipta Kerja

Investor Antusias Menunggu Aturan Turunan UU Cipta Kerja

Foto : Sumber: BKPM – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Setelah mendapat sambutan positif dari ber­bagai lembaga internasional seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB), kini investor global menunggu aturan turunan dari Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Chief Executive Officer Development Finance Corpora­tion (DFC) Amerika Serikat (AS), Adam Boehler, di Jakar­ta, akhir pekan lalu, mengaku antusias untuk melihat lebih jauh aturan pelaksanaan dari produk legislasi tersebut.

“Kami tertarik untuk melihat perkembangan yang ada melalui omnibus law. Sejumlah regulasi yang saya baca, salah satunya mempermudah perizinan. Dari perspektif kami, tentunya ada kemajuan terhadap kemajuan iklim bisnis,” kata Adam dalam virtual roundtable bersama Kadin Indonesia di Jakarta, Sabtu (24/10).

Dia berkunjung ke Indonesia untuk membuka dan me­nguatkan peluang kerja sama bisnis, serta meningkatkan in­vestasi dalam sektor teknologi, kesehatan, dan infrastruktur.

Sementara itu, Bank Ekspor Impor Amerika Serikat (Exim) menyepakati pendanaan melalui bank ekspor kedua negara dengan total mencapai 750 juta dollar AS atau setara 11 triliun rupiah, yang akan diteken dalam waktu dekat. (Be­rita di halaman 12)

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, mengata­kan, UU Cipta Kerja diharapkan meningkatkan iklim inves­tasi, meningkatkan ranking kemudahan berusaha, produkti­vitas, dan menciptakan lapangan kerja lebih luas lagi.

“Menciptakan lapangan kerja merupakan tantangan terbesar bagi Indonesia, karena lebih dari 55 persen pen­duduk bekerja di sektor informal. Investasi tentunya men­jadi penting bagi Indonesia,” kata Rosan.

Apalagi, kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi se­lama ini adalah konsumsi sekitar 59 persen dan investasi dengan pangsa 32–33 persen, selebihnya ekspor dan be­lanja pemerintah.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty, mengatakan investor sangat menunggu aturan pelaksanaan UU Cipta Kerja karena Indonesia merupakan salah satu pasar yang menarik setelah perang dagang AS dan Tiongkok. Di sisi lain, Indonesia memerlu­kan lapangan kerja baru untuk menyerap bonus demografi yang akan diprediksikan berakhir di tahun 2030–2035.

Tidak Multitafsir

Sementara itu, Ekonom Centre of Reform on Economic (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan UU Cipta Kerja menjadi semacam karpet merah bagi para investor. Namun, bukan berarti hal itu akan membuat su­atu negara menyedot investasi asing lebih besar.

“Mereka menunggu aturan turunannya, ini yang akan memengaruhi keputusan investor selanjutnya. Jadi perlu aturan yang jelas, tidak ambigu (multitafsir) dan bisa diterima semua pihak, terutama pengusaha dan pekerja,” kata Yusuf.

n uyo/ers/SB/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment