Geonas
Minggu, 01 Juli 2012 | 10:23:41 WIB

 
Bantaeng
Bantaeng
IST
Menawarkan beragam pesona alam hingga masjid tua.

Ke mana sisa waktu liburan Anda kali ini? Jika sedang berada di Provinsi Sulawesi Selatan, cobalah melancong ke Bantaeng. Kota pantai di ujung selatan Pulau Sulawesi yang berjarak 125 km dari Kota Makassar ini memiliki hamparan pantai yang elok dan menawan.

Tak percaya? Silakan jelajahi tiga pantai yang menghampar. Pantai terdekat di pusat Kota Bantaeng adalah Lamalaka. Pantai yang berada di Kelurahan Lambang, Kecamatan Bantaeng, ini secara geografis berada di koordinat 119' 57' 46,80' Bujur Timur (BT) dan 5' 33' 14,69' Lintang Selatan (LS).

Lebih afdol, Anda cukup berjalan kaki dari tempat penginapan di pusat kota menuju pantai tersebut. Kesegaran dan keasrian panorama akan terasa lebih berkesan. Ketika matahari beranjak terbit (sun rise), keelokan pantai itu mulai menampakkan pesona alamnya.

Pagi adalah saat yang pas untuk menikmati kesegaran udara pantai berciri khas tropis bermandikan cahaya matahari dan beralaskan permadani pasir putih. Sementara itu, pada sore hari, anak-anak memanfaatkan luasnya pantai menjadi arena sepak bola.

Memanjakan Pengunjung
Boleh jadi Pantai Lamalaka tak pernah sepi dari berbagai aktivitas. Suasana pantainya senantiasa memanjakan pengunjung sehingga membuat betah banyak orang. Belum puas? Silakan melaju ke Pantai Seruni yang berjarak hanya sepelemparan batu dari Lamaka. Pantai yang berada di Kelurahan Tappanjaeng, Kecamatan Bantaeng, itu dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang lima menit melalui jalan poros dari Kota Bantaeng ke arah timur.

Kalau Anda membawa alat sistem penjejak lokasi Bumi (GPS), tinggal mengikuti arahnya saja. Secara geografis, pantai itu terletak pada koordinat 119' 56' 2,40' BT dan 5' 32' 37' LS. Terdapat dermaga yang bisa mendekatkan diri menikmati deburan ombak. Jika Anda penikmat pantai sejati, Bantaeng juga menyediakan alternatif lainnya, yakni Pantai Pasir Putih Korong Batu.

Pantai berpasir putih itu berjarak sekitar 18 km dari Lamalaka mengarah ke tenggara. Pantai itu secara administratif berada di Desa Baruga, Kecamatan Pajukukang. Jarak tersebut cukup ditempuh selama 30 menit melewati jalan poros Bantaeng ke arah Kabupaten Bulukumba.

Di situ keasriannya masih terjaga dengan baik. Pasir putih yang menghampar luas siap memanjakan Anda berjemur sinar matahari pagi dan bermalas-malasan menghilangkan penat setelah sekian lama beraktivitas. Banyak hal bisa dilakukan sesuai keinginan Anda. Di antaranya olah raga pantai, mandi, berendam di laut, atau berlayar dengan perahu nelayan yang siap mengantar ke mana pun Anda pergi.

Soal harga, silakan bernego dan dijamin terjangkau. Kalau Anda ingin suasana sejuk, datanglah ke Air Terjun Bissapu yang meluncur setinggi 80 meter. Lokasinya di Desa Bonto Salluang, Kecamatan Bissappu, sekitar 5 km dari Kota Bantaeng ke arah utara. Di sepanjang jalan, Anda akan disuguhi atraksi keelokan vegetasi hijau bersuasana pegunungan tropis. Sesekali, sepanjang perjalanan, Anda bakal menyaksikan lahan persawahan dan kebun jambu mete.

Batu-batu besar dan pohon jati yang berjejer serta panorama air terjun kian memikat hati. Dijamin kesejukan airnya mampu mengusir kepenatan para pejalan kaki. Maklum, air terjun ini bersumber dari hutan di kaki Gunung Lompobattang. Tak sulit mengakses air terjun tersebut. Anak tangga sudah tersedia, siap didaki. Mendekati lokasi, suara gemuruh air terjun terdengar.

Gua Batu Ekajaya
Bagi peminat ilmu speleologi (perguaan), Gua Batu Ekajaya dapat menjadi pilihan terbaik. Bukan apaapa, gua batu ini masih menyimpan misteri yang belum sepenuhnya terkuak ilmu pengetahuan. "Bahkan pada tahun 1937, ilmuwan asal Belanda, Van Stein Callonfols, telah mengaji Gua Batu Ekajaya," ungkap Diah Kresnawati MSc dalam bukunya yang berjudul Atlas Pariwisata Sulawesi Selatan (2010).

Gua yang terletak di Kelurahan Bontojaya, Kecamatan Bissappu, sekitar 16 km dari Kota Bantaeng ke arah utara itu berdekatan dengan Kantor Lurah Bontojaya. Dari kejauhan, gua itu sudah kelihatan karena posisinya berada di atas bukit yang datar. Aksesnya mudah dicapai lantaran terletak hanya sekitar 300 meter dari jalan raya. Pohon randu ikut menambah keelokan gua tersebut.

Dari buah randu itulah masyarakat tak perlu kesulitan mendapatkan bahan baku kapuk untuk membuat bantal, guling, kasur, dan lain-lain. Puas melancong ke gua, genapkan kunjungan Anda ke Hutan Wisata Gunung Loka yang terletak di Desa Bonto Maranmu, Kecamatan Uluere, sekitar 24 km dari Kota Bantaeng. Meski jarak tempuhnya pendek, perlu waktu sekitar 90 menit untuk mencapainya. Maklum, kondisi jalannya berkelakkelok dan menanjak.

Anda harus ekstrawaspada menghadapi tikungan di jalan yang menurun. Alpa sedikit, mobil bisa terjerumus ke jurang. Jadi, sabarlah mengemudi. Buka kaca jendela, nikmati kesejukan dan kesegaran udara yang berembus sambil memandang lereng-lereng berbukit yang dipenuhi tanaman jagung.

Siapkan bekal air minum dan makanan ringan secukupnya karena Anda harus berjalan kaki sejauh 1 km untuk mencapai Hutan Wisata Gunung Loka. Rasa lelah terbayar saat Anda menyatu dengan kenyamanan aneka vegetasi yang rimbun. Berbagai sarana olah raga pun tersedia, cocok untuk kegiatan outbound.

Makam Para Raja
Kalau Anda ingin berziarah ke makam para raja, silakan dicoba. Apalagi lokasinya mudah dicapai karena berada di pusat Kota Bantaeng, tepatnya di Lingkungan Lembang Cina, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng. Tercatat, ada sekitar 159 nisan para raja dan keluarganya. Menurut Diah, makam raja-raja Bantaeng itu diambil dari nama seorang tokoh sejarah, La Tenri Ruwa. Ia juga dimakamkan di kompleks tersebut.

La Tenri adalah Raja Bone ke-11 yang pertama menerima ajakan Raja Gowa ke-141, Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, untuk memeluk agama Islam. Wisata rohani akan lebih bermakna jika Anda singgah di Masjid Tua Tompong. Ini bukan sembarang tempat suci bagi umat Islam beribadah. Berlokasi di Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, masjid yang dibangun oleh Raja Bantaeng, Karaeng Panawang, pada 1887 itu punya sejarah dan arsitektur unik dari Eropa.

Masjid kuno itu memiliki atap bentuk tumpang tiga. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. Dinding masjid di bagian utara, selatan, dan barat terbuat dari tembok yang memunyai ventilasi udara dan roster porselen berwarna hijau. Empat pilar menambah tampilan masjid tersebut tampak kokoh. Dengan berbagai keunikan itulah Masjid Tua Tompong menjadi persinggahan para wisatawan untuk bersujud syukur di hadapan Allah, Sang Penguasa Alam Semesta. b siswo

Menunggu Sentuhan
Sawahnya membentang luas dengan sesekali dihiasi rumah-rumah panggung.

Bantaeng hanya memiliki luas 0,63 persen dari seluruh wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, kabupaten yang terdiri dari 8 kecamatan, 46 desa, dan 21 kelurahan itu punya potensi alam yang, jika digarap dengan serius, mampu memberi daya tarik tersendiri. Di ujung utara sekitar 16 km dari Bantaeng atau tepatnya di Desa Kampala, Kecamatan Eremmerasa, misalnya, alam perbukitannya aduhai cantiknya. Bukit-bukit masih dipenuhi vegetasi hijau.

Udaranya terasa sejuk, membuat siapa saja betah berlama-lama menyatu dengan alam tersebut. Sawahnya membentang luas dengan sesekali dihiasi rumah-rumah panggung. Pengelola wisata pun sudah menyediakan beberapa fasilitas yang dapat dimanfaatkan pengunjung. Cobalah berenang di kolam renang. Dijamin kesegarannya tak tertandingi karena kolam tersebut diisi dengan air yang bersumber dari mata air di pegunungan.

Setiap saat, air bersih itu senantiasa mengalir ke kolam. Potensi semacam itu bisa dikemas secara terpadu dengan mengembangkan sektor pertanian dan industri. Buatlah wisatawan memiliki kesan mendalam saat berada di Bantaeng.

Apalagi selama ini, masyarakat lokal sudah mampu mengolah biji kemiri, membuat gula merah, tenun godongan, dan berbagai perabotan rumah tangga dari kayu, anyaman bambu, serta daun lontar. Produk-produk ini bisa menjadi oleh-oleh khas Bantaeng yang mampu mendatangkan kesejahteraan masyarakat. b siswo

Ada 0 Komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar Anda
Silahkan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar :

Disclaimer : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Untuk pengutipan berita wajib mencantumkan link portal Koran Jakarta. Semua berita dan foto dilindungi oleh hak cipta dan tidak diperkenankan untuk menyalahgunakannya tanpa seizin pengelola situs.