Polkamnas
Kamis, 10 Mei 2012 | 07:03:44 WIB

 
Paranormal, Pak Camat, dan Harapan Selamat
Paranormal, Pak Camat, dan Harapan Selamat
KORAN JAKARTA/DADANG KUSUMA WS

Dalam keadaan panik, Ebenhard Hotma Panggabean menyandarkan keyakinannya pada paranormal. "Informasi yang saya terima, pesawat pecah dua. Kalau malam ini bisa ditemukan, kemungkinan penumpang yang selamat, besar," kata Eben mengutip terawangan dari seorang paranormal melalui percakapan telepon, Rabu (9/5) malam, atau tujuh jam setelah pesawat hilang.

Eben lalu menceritakan obrolannya dengan paranormal itu kepada dua saudaranya yang juga menunggu cemas. "Berarti harus ditemukan malam ini juga," kata perempuan berkacamata yang merupakan kerabat Eben. Eben merupakan adik dari Edward M Panggabean, penumpang pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak pada pukul 14.33 WIB.

Edward merupakan karyawan Indo Asia yang diberi kesempatan menjajal pesawat keluaran terbaru Sukhoi untuk kepentingan komersial itu. Lima menit berselang, seorang wartawan mengabarkan kepada kerumunan keluarga korban, salah satunya kerabat Eben tadi, bahwa pesawat sudah ditemukan.

Si wartawan kemudian memberi nomor kontak Camat Cidahu bernama Ateng Sujana. Ateng dikabarkan mengetahui lokasi bangkai pesawat. Dia diberi tahu war ganya bahwa pesawat terjatuh di lereng Gunung Salak, Cidahu. "Hubungi nomor kontak ini, 081646377. Informasinya, dia sudah melihat bangkai pesawat," kata seorang wartawan perempuan itu.

Dia langsung meninggalkan keluarga korban karena harus cepat-cepat mengirim berita. Kabar dari wartawati itu bagai guyuran air dingin yang menyegarkan wajah-wajah kuyu mereka. Dekapan tangan di dada yang tak pernah dilepaskan langsung merenggang begitu mendengar kabar itu. Teriakan kalimat "Tuhan" juga terapal dari mulut-mulut keluarga korban. "Mereka ada kemungkinan selamat," kata mereka sambil berpelukan.

Akan tetapi, seketika, wajah mereka kembali muram karena tak ada perkembangan informasi lagi. Berkali-kali mereka mencoba menghubungi nomor kontak Pak Camat, tak juga tersambung. Nasrun Karim, 60 tahun, justru masih bisa berpikir rasional. Paman dari Ahmad Fazal dan Rully Dermawan ini tak begitu saja percaya dengan ucapan Pak Camat.

"Saya baru percaya kalau bangkai pesawatnya benarbenar ada dan terlihat," kata dia. Ahmad dan Rully merupakan kakak beradik yang juga ikut dalam uji terbang Sukhoi Superjet 100. Logika Nasrun juga mengatakan Pak Camat tak mungkin bisa secara jernih melihat bangkai pesawat di tengah malam buta dan cuaca buruk.

"Tapi kalau memang informasi itu benar, kami sangat bersyukur. Apalagi kalau sampai kedua keponakan saya selamat. Kasihan anak-anak mereka," kata Nasrun. Ahmad dan Rully, masing-masing, sudah berkeluarga dan dikaruniai sejumlah anak.

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada tanda-tanda pesawat ditemukan. Pihak keluarga juga masih menunggu informasi selanjutnya di Bandara Halim Perdanakusuma. Tangan mereka masih tetap tak beranjak di dada. Terkadang tangis mereka pecah dan berteriak histeris. "Papa, maafin aku...". wandi yusuf/P-3

Ada 0 Komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar Anda
Silahkan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar :

Disclaimer : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Untuk pengutipan berita wajib mencantumkan link portal Koran Jakarta. Semua berita dan foto dilindungi oleh hak cipta dan tidak diperkenankan untuk menyalahgunakannya tanpa seizin pengelola situs.