Kawasan Karst Pegunungan Sewu sangatlah unik. Di bagian atas, ia terdapat lebih dari 40.000 bukit berbentuk kerucut. Sedangkan di bawahnya terdapat sekitar 119 gua yang cantik memesona.
Secara administratif, kawasan Karst Pegunungan Sewu menjangkau tiga kabupaten, yakni Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Kawasan kapur yang terbentuk selama jutaan tahun itu, dari atas permukaan (eksokarst) tampak puluhan ribu bukit yang begitu menggoda.
Bayangkan, berdasarkan catatan, untuk kawasan karst di Gunungkidul seluas 13.000 kilometer persegi saja dihuni oleh sekitar 40.000 bukit berbentuk kerucut. Beberapa perbukitan karst ini memiliki aneka potensi yang tak ternilai harganya, seperti sebagai laboratorium ilmu pengetahuan, wisata pendidikan dan alam.
Sementara itu, dilihat dari bawah permukaan (endokarst), terlihat lembah-lembah karst, telaga karst, dan 119 gua yang aduhai eloknya. Selain memiliki stalaktit dan stalagmit yang memikat, di bawah gua-gua itu juga mengalir sungai bawah tanah.
Dengan berbagai keajaiban alam itu, tidaklah berlebihan kalau para speleolog (ahli perguaan) dunia atau International Union of Speleology pada tahun 1993 mengusulkan Kawasan Karst Pegunungan Sewu masuk sebagai salah satu warisan alam dunia.
Sejak saat itulah, Pemda Gunungkidul pun terus menata diri. Puncaknya terjadi pada 6 Desember 2004, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan kawasan Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan eko-karst. Prinsip pengelolaan karst ini difokuskan pada kawasan pariwisata yang berkelanjutan dan dapat memakmuri masyarakat luas.
Lembah Mulo
Salah satu atraksi alam yang mendebarkan di kawasan Karst Gunung Sewu adalah Lembah Mulo yang terletak di Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Para speleolog yakin, keindahan, keunikan, dan kebudayaan kawasan karst ini memiliki nilai jual tinggi bagi sektor pariwisata.
Gua-gua dan lembah karst dapat memberikan kenikmatan para wisatawan, baik dari segi keindahan, keunikan, maupun ilmu speleologi yang dapat diambil dari penjelajahan kawasan karst, baik horizontal maupun vertikal.
Menurut Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wisata Bidang Pengembangan Produk Wisata, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul, Yunus Hanafi, pertimbangan untuk menjadikan daerahnya sebagai pusat kegiatan geowisata karst adalah memiliki keunikan tiada tara dan aspek keruangan yang sangat strategis. "Lembah ini berada di jalur utama wisata Gunungkidul dan terletak di zona tengah kawasan karst Gunungkidul," ujarnya.
Objek Geowisata Karst Lembah Mulo yang berada di titik koordinat 8o 1' 68" Lintang Selatan dan 110o 35' 81" Bujur Timur itu dapat dicapai dengan mudah dan cepat karena jaraknya dari Kota Wonosari hanya sekitar 5 kilometer dengan kondisi jalan yang relatif baik. Lokasinya juga mudah dijangkau lantaran lokasi itu berada di pinggir jalan aspal.
Bentuk atau morfologi kawasan ini berupa lembah karst memanjang dan tebing-tebing curam. Lembah tersebut merupakan aliran permukaan masuk dan berubah menjadi aliran bawah permukaan menjadi sistem sungai bawah tanah.
Lembah ini berkedalaman berkisar 50-150 meter, lebar 30-100 meter, dan panjang lebih dari 1 kilometer. Tebing-tebing lembah pada kawasan ini sangat curam dan membentuk jurang atau tebing (cliff) dengan kemiringan 45-90 derajat.
Proses terbentuknya lembah ini dipengaruhi oleh proses karstifikasi, struktur geologi, dan proses fluvial. Sisa-sisa runtuhan batuan yang ada di kawasan ini seolah menjadi bukti sebuah proses geologi yang telah berlangsung selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Proses yang dipercepat oleh aliran air ini mengikis dinding lembah, menyisakan dinding-dinding terjal tegak menjulang sebagai batas lembah dan dataran di atasnya.
Panorama alam yang dapat dinikmati di antaranya berupa lembah-lembah memanjang, tebing-tebing curam, perbukitan karst, dataran aluvial karst, dan sungai permukaan yang masuk ke sistem karst. Pengunjung juga dihidangkan bentang alam transisi antara daerah perbukitan karst dan dataran aluvial.
Museum Alam
Kawasan lembah karst Mulo merupakan fenomena alam bentukan depresi (negatif) permukaan di kawasan karst yang bentangannya cukup lebar. Pada kawasan karst Mulo ini dijumpai bentukan depresi yang dihubungkan oleh alirah bawah permukaan yang relatif tidak berair, sekalipun pada musim hujan.
Meskipun pembentukan lembah karst ini bukan hasil dari proses fluvial murni, keberadaannya mencerminkan masih dapat berlangsungnya proses nonkarstifikasi yang terjadi di kawasan tersebut. Menurut Yunus, untuk kawasan Asia, keunikan Mulo sudah lengkap, dan jika dikembangkan dengan baik akan mampu mengentaskan kemiskinan di wilayah ini.
Secara spesifik, kemunculan karst Mulo relatif lengkap dan mewakili kawasan karst pada umumnya seperti dry valley, gua, telaga, danau bawah tanah, dan jembatan alam. Dengan demikian, kawasan tersebut merupakan inti karst di Kabupaten Gunungkidul.
Di bentukan karst inilah Pemda Gunungkidul juga mengusulkan menjadi Museum Alam Kars Gunungsewu. Apalagi secara geografis, kawasan tersebut sangatlah strategis. Ia memunyai kedekatan akses terhadap objek-objek wisata unggulan yang berada di jalur utama pergerakan wisatawan dari Yogyakarta–Wonosari menuju pantai selatan seperti Baron, Kukup, Krakal, Sepanjang, Drini, dan Sundak.
Tempat wisata ini akan sangat cocok jika dibuat paket wisata dengan Pantai Siung dan Gunung Nglanggeran, yang semuanya dapat menjadi wisata alam penuh tantangan. Tak hanya itu, bagi Anda yang ingin bertualang dan menjelajahi gua, cobalah ikuti rute ini.
Ikutilah alur sungai hingga masuk ke dalam Gua Ngingrong. Setelah menikmati pesona stalaktit dan stalagmit, perjalanan Anda akan menembus lembah selatan dan bertemu dengan jalan raya Wonosari–Tepus. Dijamin, penjelahan tersebut akan menyisakan kenangan tersendiri bagi Anda. b siswo
Menjadikan Mulo sebagai Desa Wisata
Pengembangan pariwisatanya adalah berbasis masyarakat.
Alam telah memberi segalanya. Manusialah yang akan menentukan mau dikemanakan potensi alam yang bertengger di Desa Mulo itu. Karena Mulo kaya karst, kawasan ini cocok jika dikembangkan sebagai wisata karst berbasis lingkungan.
Apalah jadinya kalau kawasan yang menawan ini ditambang dan diambil kapurnya. Selain rusak, hasil dari penambangan tersebut hanya sesaat. Ia meninggalkan luka setelah kapur itu diambil habis-habisan.
Menurut Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wisata Bidang Pengembangan Produk Wisata, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul, Yunus Hanafi, konsep pengembangan pariwisatanya adalah berbasis masyarakat. Pada tahun 2011 misalnya, upaya mewujudkan desa wisata ini telah dirintis melalui pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis) Mulo.
Saat ini sedang dirintis untuk pengembangan kawasan Mulo sebagai wisata melalui pengembangan "pariwisata berbasis masyarakat. Untuk aksinya, baru pada tahap pengenalan dan sosialisasi kepada masyarakat," katanya.
Ia melanjutkan, rencana pengembangan tata ruang kawasan Mulo dibagi menjadi tiga zona. Pertama, zona inti. Di zona ini akan dikembangkan objek utama penciptaan daya tarik yang terfokus pada upaya pengembangan jelajah gua, yang terdiri dari Gua Mulo, Ngingrong, Lembah Mulo, dan tebing-tebing karst.
Kedua, zona pendukung. Pengembangan pada zona ini dititikberatkan pada fasilitas wisata dan pendidikan seperti laboratorium karst, fasilitas pameran, perpustakaan, dan toko cendera mata.
Ketiga, zona pelengkap. Pengembangan kegiatannya dilakukan dengan membangun lokasi-lokasi, pengembangan jalan setapak (tracking), rest area, dan kawasan camping ground. Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan tidak mengganggu unsur alami, perbukitan, lembah, lereng, gua, flora dan fauna. b siswo