NAPLES - Awan gelap yang menyelimuti kubu Chelsea ternyata tak mampu disibak Andre Villas-Boas (AVB) di pentas Liga Champions. Sebaliknya, posisi AVB berada di ujung tanduk seiring kekalahan yang diderita Chelsea 1-3 dari Napoli pada babak 16 besar di Stadio San Paolo, Napoli, Rabu (22/2) dini hari WIB.
Kekalahan yang diterima Chelsea dituding karena AVB salah taktik, terutama saat memilih mencadangkan Ashley Cole, Michael Essien, dan Frank Lampard. Dua nama terakhir dianggap bisa menutup kekurangan lini pertahanan. Terbukti, saat Essien dan Lampard masuk, gawang Cech cukup aman, dan pergerakan tiga trisula Napoli, Edinson Cavani, Ezequiel Lavezzi, dan Marek Hamsik, dapat diredam.
Namun, AVB tak mau strateginya disalahkan. Dia menganggap tim yang dipilihnya sudah yang terbaik. "Silakan Anda beropini, tapi saya membentuk tim yang terbaik yang ada dalam pikiran saya," tegas AVB seperti dikutip Sportinglife.
Pernyataan AVB tak mengubah kenyataan bahwa dirinya kini terjepit. Tertinggal agregat 1-3, sulit bagi Chelsea untuk selamat dari kegagalan lolos ke perempat final meski masih ada kesempatan di Stamford Bridge pada 15 Maret untuk membalikkan keadaan.
AVB, kabarnya, kini hanya menunggu waktu keputusan dari sang pemilik, Roman Abramovich, yang mulai berang. Meski AVB berkilah masih mendapat dukungan dari taipan asal Rusia itu, rekor buruk Chelsea musim ini akan membuatnya cepat terdepak.
Betapa tidak, tak hanya di Liga Champions, performa buruk juga dialami Chelsea di Liga Inggris yang kini hanya berkutat di posisi lima klasemen, satu tingkat di bawah zona Liga Champions. Lebih miris, sebelum laga melawan Napoli, Chelsea hanya bermain imbang 1-1 dari tim satu level di bawahnya, Birmingham City, di putaran kelima Piala FA.
Nama pengganti AVB juga mulai mencuat. Mantan pelatih Liverpool, Rafael Benitez, seperti diungkapkan Telegraph, sudah 75 persen akan melatih Chelsea. Benitez dipilih karena dianggap bisa memaksimalkan permainan Fernando Torres yang pernah dilatihnya. Nama Quique Sanchez Flores, pelatih yang membawa Atletico Madrid menjadi juara Liga Eropa 2010 lalu, juga sedang didekati Abramovich.
Tanpa kapten John Terry yang dinyatakan cedera dan harus absen selama dua bulan, pertahanan Chelsea karut-marut di bawah penjagaan David Luiz, Gary Cahill, dan Branislav Ivanovic. Meski Chelsea unggul lebih dahulu lewat Juan Mata pada menit ke-27, pemain Napoli berhasil mengecoh mereka.
Lavezzi mengawali gol Napoli di menit ke-39. Kurang sigapnya Luiz menutup tendangan Lavezzi membuat gawang Petr Cech bobol. Cavani menambah keunggulan Napoli pada masa injury time babak pertama, meneruskan umpan Gokhan Inler. Luiz melakukan kesalahan lagi. Bola yang seharusnya dibuang sempurna berhasil direbut Cavani yang langsung memberikan ke Lavezzi yang berdiri bebas. Cech kembali memungut bola dari dalam gawangnya di menit ke-65.
Namun, kesalahan yang dilakukan Luiz dibela AVB. "Saat kami kebobolan, pemain selalu jadi target. Jika kau kebobolan tiga gol, kau harus memperbaiki diri. Kami selalu melihatnya secara tim dan individu, mencoba mengoreksi semua," jelas dia.
Hegemoni Terancam
Kekalahan yang diderita Chelsea melengkapi performa buruk Arsenal yang sebelumnya kalah telak 0-4 dari AC Milan. Dengan agregat terbentang jauh dari para lawannya, wakil Inggris itu juga berada di ujung tanduk. Sebelumnya, dua wakil lainnya, Manchester United dan Manchester City, sudah terpental di fase grup. Hegemoni Inggris yang selama enam musim menguasai kompetisi klub tertinggi di Eropa itu luruh.
Jika dua wakil tersisa, Chelsea dan Arsenal, gagal ke perempat final, hal itu akan menjadi catatan terburuk Inggris di Liga Champions sepanjang 16 tahun terakhir. Terakhir kali Inggris gagal menempatkan wakilnya di perempat final pada musim 1995-1996.
Padahal, klub Inggris selama ini menguasai fase knockout, bahkan empat besar selama tiga musim beruntun dari 2006 hingga 2009. Pada musim 2006-2007 dan 2007-2008, misalnya, Chelsea, Liverpool, dan MU mengepung Milan (2007) dan Barcelona (2008). Setahun berikutnya, Arsenal yang menggantikan Liverpool mengepung kembali Barcelona (2009).
"Liga Inggris diakui sebagai yang terbaik, namun semuanya terbuang ke sungai," kata mantan pelatih timnas Inggris, Graham Taylor, melihat kondisi tim Inggris di Liga Champions seperti dikutip BBC.O AFP/Rtr/tya/N-1