JAKARTA - Mata pelajaran bahasa Inggris akan dihapuskan dari kurikulum jenjang Sekolah Dasar (SD). Penghapusan ini merupakan salah satu dari hasil sementara kajian perubahan kurikulum untuk pendidikan dasar dan menengah pada 2013 mendatang. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim, mengungkapkan bahwa kesepakatan terakhir terkait kurikulum SD, yakni akan ada pengurangan jumlah mata pelajaran (mapel) dari 11 menjadi enam mapel.
Keenam mapel tersebut adalah Agama, bahasa Indonesia, PPKN, Matematika, Seni dan Budaya, Penjaskes. "Memang masih didiskusikan, tapi pengurangan menjadi 6 mapel itu sudah final," kata Musliar, saat Training of Trainers (TOT) Pembangunan Karakter Bangsa pada guru dan Kepala Sekolah DKI Jakarta, di Jakarta, Rabu (10/10).
Sebagaimana diketahui, saat ini untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan setiap sekolah diberikan otonomi untuk menentukan mata pelajarannya sendiri. Salah satunya terlihat dalam muatan lokal (mulok), yang biasanya diisi oleh pelajaran-pelajaran, seperti bahasa daerah, komputer, seni tari, karawitan, dan sebagainya.
Jumlah mulok di daerah bisa berkembang sangat banyak bahkan mencapai 11 macam pelajaran. Dengan adanya penghapusan tersebut, otomatis sejumlah pelajaran akan menghilang dari kurikulum SD, di antaranya IPA, IPS, dan bahasa Inggris. "Bahasa Inggris akan dihapuskan, sekolah negeri tidak boleh menambahkan bahasa Inggris ke dalam kurikulum, aturan untuk sekolah internasional belum diatur," ungkap dia.
Selain itu, mata pelajaran IPA dan IPS juga dipastikan akan hilang, namun hanya sebatas tidak akan berdiri menjadi mata pelajaran khusus. Melainkan materinya akan diintegrasikan ke dalam 6 mapel tersebut. "Mapel IPA dan IPS tidak muncul sebagai mapel sendiri, justru akan menjadi penggerak dan membuat mapel lain lebih menarik," terang dia.
Lebih Berbobot
Kalimat-kalimat yang ada di enam mata pelajaran akan dibuat lebih hidup dan berisi. "Bahasa Indonesia, misalnya, pelajarannya akan dibuat lebih berbobot karena integrasi IPA dan IPS itu. Tidak lagi hanya 'Ini Ibu Budi' saja," cetus Mantan Rektor Universitas Andalas ini.
Dengan diintegrasikan IPA dan IPS itu, akan membuat kalimat dalam materi pelajaran lebih hidup. "Kalau selama diajarkan hanya 'Ini Ibu Budi', terkesan tidak ada makna. Dengan integrasikan IPA, IPS ke mapel lain, akan jadi lebih hidup," terang Musliar.
Terkait mapel IPA dan IPS, hasil sementara hanya akan diintegrasikan di kelas 1-3, sedangkan apakah akan diperlukan di kelas 4-6 masih dalam pembahasan. "Sudah disepakati hilang di kelas 1-3, kelas 4-6 masih belum final," papar dia.
Musliar mengatakan pengurangan mapel tersebut karena mempertimbangkan, bahwa fokus kompetensi anak pada jenjang SD untuk Membaca Menulis, dan Berhitung (Calistung). "Anak SD belum perlu diajarkan ilmu pengetahuan yang jlimet karena membaca saja belum lancar. Jadi, IPA dan IPS akan mulai diajarkan di SMP dan SMA," ujar Musliar.
Kurikulum baru ini juga diharapkan akan memberi banyak waktu kepada anak untuk membangun diri dan karakternya, terutama tentang belajar sikap. "Beban anak akan dikurangi, bahkan anak-anak nyaris tidak akan ada pekerjaan rumah," ungkap Musliar. Nantinya, terang Musliar, kurikulum baru ini wajib diikuti oleh seluruh sekolah SD di Indonesia, terutama SD Negeri. "Karena kami belum membahas ketentuan untuk sekolahsekolah internasional," jelas Dia. Musliar juga menyampaikan bahwa pengurangan mapel juga akan terjadi di jenjang SMP. cit/N-1