Goa Maria Kerep 100 Persen Jalankan Protokol Kesehatan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2021
No Comments

Goa Maria Kerep 100 Persen Jalankan Protokol Kesehatan

Goa Maria Kerep 100 Persen Jalankan Protokol Kesehatan

Foto : ISTIMEWA
Umat berziarah taat menjaga jarak.
A   A   A   Pengaturan Font

Para pengunjung yang mau ziarah ke Goa Maria Kerep, Ambarawa, Jateng, harus mengikuti prosedur yang ditetapkan pengurus untuk ­menekan persebaran Covid-19.

“Kami menjalankan per sesi untuk masuk ke Goa Maria,” kata salah satu pengurus, Yono. Goa dibuka pukul 09.00 sampai 15.00. Menurutnya, setiap sesi maksimal 100 orang. Setiap sesi 50 menit.

Setelah rombongan keluar, lokasi goa disemprot disinfektan dulu. Setelah itu, baru dibuka lagi untuk sesi berikut. Pintu masuk berbeda dengan pintu keluar.

Yono menambahkan,  setiap peziarah harus mengenakan gelang tanda masuk. Sebelumnya harus cuci tangan, difoto scan wajah, dan baru boleh masuk. Terlihat  tempat cuci tangan menggunakan kaki untuk mengeluarkan sabun cair atau air kran.

“Bagus juga sistemnya. Dengan model per sesi, membuat peziarah tak berjubel,” ujar salah satu pengunjung, Nia (26) dari Krawang, Jabar.

Menurut Yono, Goa Maria Kerep ditutup tujuh bulan dan baru dibuka tiga bulan terakhir. Malam Natal tidak ada kegiatan karena lokasi ditutup pukul 16.00 WIB.

Dari pemandangan di dalam lokasi ziarah, terlihat seluruh umat khusuk berdoa di depan Bunda Maria dengan jarak kursi sekitar dua meter dan semua mengenakan masker. 

Ada juga yang duduk berjauhan, tidak menggunakan kursi. Mereka bersila sambil memegang rosario. Bagian-bagian taman di lokasi ziarah ditutup, tidak boleh dikunjungi agar umat langsung meninggalkan lokasi.

 

Di Paroki Babadan Patung Saja Memakai Masker

 

 

Sementara itu, suasana Natal di gereja-gereja berlangsung sederhana. Setiap gereja membatasi umat yang hadir untuk ikut misa.

Meski begitu, kondisi pandemi Covid-19 tak menyurutkan kreativitas umat. Hal itu tampak, misalnya, di Paroki Petrus-Paulus, Babadan, Sleman, Yogyakarta.

Di dalam Goa Natal tampak patung-patung: tiga orang Majus, bunda Maria, Santo Yosef, para gembala, bahkan domba-domba mengenakan masker. Ini untuk memperlihatkan atau memberi contoh ketaatan menjalankan protokol kesehatan.

Romo paroki Babadan, Hadiyanto, menceritakan, panitia bertanya, apakah patung-patung Natal boleh dimaskerin. “Saya jawab, boleh saja. Tapi, bayi Yesus jangan karena kecil,” kata Romo Hadiyanto.

Nah, sekarang kita manusia bagaimana? Patung-patung saja memakai masker. Masa kita kalah. n wid/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment