Filipina Perintahkan Evakuasi, Antisipasi Badai Terkuat di Dunia 2020 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments

Filipina Perintahkan Evakuasi, Antisipasi Badai Terkuat di Dunia 2020

Filipina Perintahkan Evakuasi, Antisipasi Badai Terkuat di Dunia 2020

Foto : Antaranews
A   A   A   Pengaturan Font

 

MANILA - Pemerintah Filipina memerintahkan agar dilakukan evakuasi terhadap ribuan penduduk wilayah selatan pulau Luzon, sebagai antisipasi menjelang datangnya Topan Goni, satu dari lima badai terkuat di dunia pada tahun ini, ke kawasan itu.

Dengan kecepatan rata-rata angin 215 kilometer/jam dan dapat mencapai 265 kilometer/jam, Topan Goni akan menerjang Filipina pada Minggu (1/11) menjadi topan terkuat yang mengguncang negara itu sejak Topan Haiyan pada November 2013 yang menewaskan lebih dari 6.300 orang.

“Evakuasi warga dimulai dari wilayah pesisir dan area yang rawan longsor di provinsi Camarines Norte dan Camarines Sur, sementara otoritas Provinsi Albay meminta penduduk di area yang berisiko untuk meninggalkan sementara rumah mereka,” kata pejabat penanggulangan bencana, Gremil Naz. "Kekuatan topan ini tidak main-main," imbuh Naz kepada radio DZBB, menjelaskan tentang Topan Goni, yang merupakan badai tropis ke 18 di Filipina.

Pekan lalu, Filipina diterjang Topan Molave yang menewaskan 22 orang, kebanyakan karena tenggelam di wilayah selatan dari Ibu Kota Manila, yang juga memproyeksikan rute yang akan dilalui Topan Goni esok.

Topan Goni, yang bergerak ke wilayah barat dengan kecepatan 20 kilometer/jam dari Samudera Pasifik, akan membawa hujan deras di wilayah ibu kota dan 14 provinsi sekitarnya pada Sabtu malam, serta memungkinkan terjadinya banjir dan tanah longsor.

Otoritas menghadapi tantangan lain, yakni dengan keharusan menerapkan protokol kesehatan terkait Covid-19 dalam proses evakuasi demi mencegah penularan virus.

Bantuan kebutuhan dasar, mesin berat, dan alat pelindung diri telah disiapkan di sejumlah titik vital, kata Filipino Grace Amerika, wali kota Infanta di provinsi Quezon, kepada DZBB. "Namun karena pandemi Covid-19, dana kami untuk hal terkait bencana dan pengeluarannya tidak mencukupkan," ujar dia.

Di sisi lain, otoritas juga meminta penghentian operasional pelabuhan dan melarang nelayan untuk berlayar. Ant/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment