Dobel Bencana Pandemi dan Banjir | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Dobel Bencana Pandemi dan Banjir

Dobel Bencana Pandemi dan Banjir

Foto : ANTARA/Ho-Kelurahan Kebon Baru.
Petugas PPSU Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, mengukur ketinggian air yang sempat merendam permukiman warga akibat luapan Kali Ciliwung, Minggu (25/10/2020).
A   A   A   Pengaturan Font
Kita menghadapi dua ancaman sekaligus dalam tiga bulan ke depan, yakni pandemi korona dan musim hujan.

Di tengah pandemi virus korona Covid-19 yang masih menghantui warga di Republik ini, khususnya DKI Jakarta, kita juga sedang dihadapkan pada masalah klasik, yaitu banjir akibat musim hujan.

Kita akan menghadapi dua ancaman sekaligus dalam tiga bulan ke depan, yakni pandemi korona dan musim hujan. Dobel bencana ini tentu akan menjadi masalah besar bila tidak segera diantisipasi oleh pemerintah, khususnya di DKI Jakarta.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, perkembangan kasus harian pada Senin (26/10), tercatat 3.222 kasus baru pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Dengan demikian, total positif Covid-19 sampai saat ini mencapai 392.934 kasus. Dari data tersebut, tercatat lima provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi. Kelima provinsi itu, yakni DKI Jakarta (906 kasus baru), Jawa Barat (431 kasus baru). Kemudian, Jawa Timur (296 kasus baru), Sumatera Barat (296 kasus baru) dan Riau (205 kasus baru).

Sementara itu, sebanyak 86 RT di Ibu Kota terendam banjir, Minggu (25/10), akibat hujan deras dan tingginya air di bendungan Katulampa, Bogor, Jawa Barat. RT-RT yang terendam banjir itu tersebar di wilayah Jakarta Selatan (16 RT) dan Jakarta Timur (70 RT). Kondisi seperti ini akan terus terjadi hingga berakhirnya fenomena anomali iklim La Nina pada Maret dan April 2021.

Senin (26/10), hujan kembali mengguyur DKI Jakarta. Sembilan RT yang terletak di tiga kelurahan, yakni 2 RT di Kelurahan Ciracas, 4 RT di Kelurahan Rambutan, dan 3 RT di Kelurahan Pekayon, mengalami banjir. Musim hujan secara menyeluruh dimulai Desember 2020.

Dampak dari bencana banjir itu adalah masyarakat akan mengungsi ke lokasi-lokasi pengungsian. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, tipikal tempat pengungsian selalu serupa, yakni tenda, ruang kelas, masjid, atau balai desa. Kerumuman warga di lokasi pengungsian seperti itu sulit untuk dihindari. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap penanganan Covid-19.

Sebelum banjir saja, penularan Covid-19 masih tinggi, apalagi ditambah dengan kerumunan warga di lokasi pengungsian. Terbatasnya ruang pengungsian, menyulitkan warga menjaga jarak. Di situlah masalah akan mancul. Lokasi pengungsian berpotensi menjadi klaster baru Covid-19.

Karena itu, penanganan banjir di tengah wabah korona di Ibu Kota perlu perlakuan yang berbeda dengan sebelum wabah Covid-19 terjadi. Musim hujan di masa pandemi ini membutuhkan usaha persiapan yang jauh lebih keras. Akan ada risiko berlapis pada kesehatan masyarakat.

Penyakit langganan yang timbul di pengungsian juga menjadi ancaman jika banjir datang saat masa pandemi tidak terkendali. Berbagai penyakit menyebar dengan cepat. Misalnya demam tifoid (tipes), leptospirosis (penyakit yang ditularkan oleh kencing tikus), demam berdarah dan malaria. Risiko penyakit lainnya yang timbul saat banjir adalah infeksi saluran pernapasan, influenza, penyakit kulit, dan diare. Akhirnya, warga menghadapi dua kali disaster, yakni penyakit dari Covid-19 dan dari banjir. Selain itu, kondisi penampungan dan stres akibat banjir akan melemahkan sistem imun para pengungsi. Tubuh mereka jadi semakin rentan terserang penyakit, baik itu dari bakteri maupun virus.

Oleh karena itu, pemerintah daerah harus memastikan kelayakan pengungsian sebagai langkah antisipasi atau pencegahan Covid-19. Intinya, lebih baik mengantispasi sebelum dobel bencana besar terjadi.

Tempat pengungsian harus ditata sehingga protokol kesehatan bisa dilaksanakan. Pemda harus memisahkan jarak antarkelompok pengungsi satu dengan yang lain, berdasarkan keluarga. Kemudian, pemprov harus mengidentifikasi tempat pengungsi atau titik-titik pengungsi yang lebih banyak karena harus ada jarak yang cukup satu kelompok keluarga dengan kelompok keluarga lain dalam satu area pengungsian.

Mitigasi bencana harus dilakukan secara dini. masyarakat yang mengungsi harus mematuhi protokol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Dan kepatuhan tersebut juga harus diikuti dengan menjaga kebersihan lokasi pengungsian. Dengan demikian, dobel bencana bisa kita atasi. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment