| Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
Politik Korsel | Mantan Presiden Korsel Dinyatakan Bersalah atas Kasus Pencemaran Nama Baik

Chun Doo-hwan Dijebloskan ke Bui 

Chun Doo-hwan Dijebloskan ke Bui 

Foto : AFP/KOREA POOL
Hadiri Persidangan - Mantan Presiden Korsel, Chun Doo-hwan (tengah mengenakan topi) tiba di Pengadilan Distrik Gwangju pada Senin (30/11). Dalam persidangan Chun dinyatakan bersalah dalam kasus pencemaran nama baik seorang mendiang pastor dan pengadilan menjatuhkan hukuman penjara 8 bulan dan 2 tahun masa percobaan terhadap dirinya.
A   A   A   Pengaturan Font
Satu lagi mantan presiden Korsel kembali dijebloskan ke penjara. Kali ini giliran Chun Doo-Hwan yang digiring ke bui setelah dinyatakan bersalah dalam kasus pencemaran nama baik terhadap mendiang seorang pastor.

SEOUL - Mantan Presiden Korea Selatan (Korsel), Chun Doo-hwan, pada Senin (30/11) dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Distrik Gwangju dalam persidangan kasus pencemaran nama baik seorang mendiang pastor yang mengaku menyaksikan penembakan oleh pasukan militer selama terjadi aksi demonstrasi prodemokrasi di Gwangju pada 1980.

Saat dibacakan putusan pengadilan, Chun, 89 tahun, terlihat tengah tertidur. Pengadilan di Gwangju menjatuhkan hukuman penjara 8 bulan dan 2 tahun masa percobaan terhadap Chun.

Peristiwa penumpasan aktivis prodemokrasi di Gwangju berakhir dengan pertumpahan darah. Jumlah resmi korban tewas atau hilang adalah sekitar 200 orang, tetapi para aktivis mengatakan insiden itu mungkin telah menelan korban tiga kali lebih banyak dari angka resmi.

Sejak terjadi aksi penumpasan itu, Chun kemudian dikenal dengan sebutan sebagai "Sang Penjagal Gwangju".

Dalam pembelaannya, Chun membantah keterlibatannya secara langsung dalam upaya penumpasan berdarah terhadap pengunjuk rasa prodemokrasi itu. Dalam memoarnya yang diterbitkan pada 2017, Chun mengecam kesaksian pastor bernama Cho Bi-oh yang berulang kali bersaksi bahwa helikopter-helikopter tempur dikerahkan untuk menembaki warga sipil pada peristiwa berdarah di Gwangju pada 21 Mei 1980. Chun menyatakan bahwa pastor itu adalah sosok pembohong dan setan yang bersembunyi dibalik sebuah topeng.

Berdasarkan undang-undang pencemaran nama baik yang berlaku di Korsel, pelanggaran pasal pencemaran nama baik bisa menjadi tindak pidana serta masalah perdata, serta kerabat dapat mengajukan gugatan hukum atas nama seseorang yang meninggal.

Keluarga pastor Cho Bi-oh telah mengajukan tuntutan pidana pencemaran nama baik terhadap Chun sehingga jaksa bisa menggringnya ke pengadilan.

"Chun mengetahui tembakan oleh helikopter tempur itu," kata pengadilan seraya menambahkan bahwa Chun turut bertanggung jawab atas jatuhnya para korban.

Keputusan itu memberinya hukuman percobaan delapan bulan, jauh lebih ringan dari tuntutan masa tahanan 18 bulan yang diajukan jaksa. “Hakim telah menyatakan bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dan Chun harus dengan tulus meminta maaf atas penderitaan dan rasa sakit yang telah dia sebabkan untuk mengakui perbuatannya secara tulus,” lapor kantor berita Yonhap.

 

Tangan Besi

Presiden Chun memerintah Korsel dengan tangan besi selama era ‘80-an. Di bawah pemerintahannya, Korsel mengalami kebangkitan ekonomi dan negaranya memenangkan hak untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1988.

Namun saat berkuasa Chun juga secara brutal menekan rival-rivalnya hingga pada akhirnya sebuah demonstrasi massa telah memaksanya untuk merangkul demokrasi. Chun adalah presiden pertama di Negeri Ginseng yang menyerahkan kekuasaan secara damai, tetapi  ia tetap menjadi salah satu tokoh yang paling dicerca.

Pada 1996, Chun dijatuhi hukuman karena dugaan pengkhianatan dan dijatuhi vonis hukuman mati atas peristiwa berdarah yang terjadi di Gwangju, tetapi eksekusinya diringankan setelah naik banding dan dia dibebaskan setelah ada pengampunan dari presiden.

Dengan dijebloskannya Chun ke penjara maka saat ini ada 4 mantan presiden Korsel yang masih hidup saat ini berada di penjara atau pernah menjalani hukuman penjara. SB/AFP/I-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment