Capitol Hill Jebol | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
PERSPEKTIF

Capitol Hill Jebol

Capitol Hill Jebol

Foto : ANTARA/REUTERS/Shannon Stapleton.
Para pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Kongres AS, Capitol, di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2020), dan bentrok dengan polisi selama demonstrasi untuk menentang pengesahan hasil Pemilihan Presiden AS 2020 oleh Kongres.
A   A   A   Pengaturan Font
Kedewasaan perpolitikan warga di negara itu terlihat seperti yang terjadi di negara berkembang yang sedang belajar berdemokrasi.

Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat (AS), diserbu massa pendukung Presiden Donald Trump, Rabu (6/1). Mereka tidak terima dengan penghitungan suara elektoral yang dilakukan negara bagian.

Mereka menganggap banyak terjadi kecurangan dalam penghitungan suara. Untuk itu, mereka menuntut dilakukan penghitungan suara ulang dan memberikan kemenangan kepada Trump. Gedung yang menjadi simbol ­demokrasi negara Adidaya itu pun jebol.

Pendukung Trump sempat masuk ke ruangan kerja Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Nancy Pelosi, dan mengacak-acak seluruh dokumen di ruang itu. Tumpukan kertas berserakan di atas lantai di kantor Pelosi. Massa juga menghancurkan cermin besar di kantor sang Ketua ­Dewan.

Peristiwa tragis ini terjadi saat Kongres AS sedang bersidang untuk untuk merampungkan penghitungan suara elektoral (electoral college).

Massa yang sempat menguasai Capitol Hill itu membuat proses penghitungan suara elektoral dihentikan selama beberapa jam. Anggota Kongres pun diungsikan.

Aparat keamanan pun bertindak cepat dan tegas. Tragisnya, empat orang dikhabarkan tewas tertembak dan 52 lainnya ditangkap dalam kerusuhan itu.

Setelah situasi pulih, Kongres pun melanjutkan penghitungan suara elektoral. Kongres akhirnya mengukuhkan kemenangan Joe Biden atas Donald Trump.

Dalam perhitungan suara akhir, Biden mengantongi suara elektoral sebanyak 306, jauh melampaui ambang batas suara maksimal 270. Sementara rivalnya, Trump, hanya mengantongi 232 suara elektoral.

Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS menolak keberatan yang meragukan kemenangan Biden dalam hasil perolehan suara elektoral di Georgia dan Pennsylvania. Partai Republik juga mengajukan keberatan atas perolehan suara elektoral di Arizona, Nevada, dan Michigan, namun mosi tersebut gagal sebelum diperdebatkan.

Sebagai ikon demokrasi dunia, peristiwa jebolnya Capitol Hill itu tentu saja mempermalukan Amerika Serikat. Kedewasaan perpolitikan warga di negara itu terlihat seperti yang terjadi di negara berkembang yang sedang belajar berdemokrasi.

Yang kalah enggan dan tidak mau mengakui kekalahannya dan mengerahkan pendukungnya untuk berbuat anarkistis. Mereka terkesan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Pemilihan Presiden AS kali ini memang membuat rakyat negara tersebut menjadi terbelah. Media massa AS pun terjebak dalam aksi dukung-mendukung kandidat presiden.

Kini, Kongres telah resmi menetapkan Joe Biden sebagai pemenang Pemilihan Presiden 2020. Presiden Donald Trump secara terbuka juga sudah menyatakan bersedia meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari dan menjanjikan transfer kekuasaan yang tertib.

Tugas Biden selanjutnya adalah bagaimana dia bisa menyatukan kembali rakyat AS yang sudah terbelah itu. Biden harus menjadi Presiden untuk rakyat Amerika, bukan hanya Presiden untuk pendukungya semata. n

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment