Buntut Kecelakaan Boeing Seri 737 Max | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2021
No Comments
PERSPEKTIF

Buntut Kecelakaan Boeing Seri 737 Max

Buntut Kecelakaan Boeing Seri 737 Max

Foto : Antara/REUTERS/Marco Bello.
Ilustrasi. American Airlines nomor penerbangan 718, penerbangan komersial pertama Boeing 737 MAX sejak regulator mencabut larangan terbang selama 20 bulan pada bulan November, terbang dari Miami, Florida, Amerika Serikat, Selasa (29/12/2020).
A   A   A   Pengaturan Font
Dari dua kecelakaan itu terungkap adanya penipuan yang dilakukan karyawan Boeing.

Dua kecelakaan pesawat Boeing seri 737 Max, yakni Lion Air dengan nomor penerbangan JT- 610, dan Ethiopian Airlines 302, harus dapat menjadi pelajaran berharga bagi maskapai penerbangan.

Lion Air dengan nomor penerbangan JT- 610, rute Jakarta–Pangkal Pinang, mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Sebanyak 189 orang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, satu penumpang anak, dua bayi, dua pilot, lima kru dinyatakan meninggal dunia. Kecelakaan tersebut terjadi di lepas Pantai Karawang, Jawa Barat.

Pesawat Lion Air JT-610 lepas landas pada pukul 06.20 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta dengan rute Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Pesawat dijadwalkan akan tiba di tujuan sekitar pukul 07.20 WIB. Namun, 13 menit setelah mengudara, pesawat jatuh pada pukul 06.33 WIB di koordinat S 5’49.052” E 107’06.628”.

Sedangkan pesawat Ethiopian Airlines 302 jatuh pada 10 Maret 2019 dan menewaskan 157 penumpang dan awak pesawat. Kecelakaan terjadi tak lama setelah pesawat lepas ladas dari Ibu Kota Addis Ababa untuk menuju Nairobi, Kenya.

Dari dua kecelakaan tragis itu terungkap adanya perilaku curang dan menipu yang dilakukan karyawan produsen pesawat komersial terkemuka dunia itu. Karyawan Boeing memilih jalur keuntungan daripada keterusterangan ­dengan menyembunyikan informasi material dari FAA mengenai pengoperasian pesawat 737 Max dan terlibat dalam upaya untuk menutupi penipuan mereka.

Boeing menyembunyikan informasi tentang teknologi anti-stall yang merupakan faktor utama dalam kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines atau dikenal dengan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Informasi itu disembunyikan oleh dua pilot 737 Max kepada FAA.

Hal ini membuat FAA tidak menyebut soal MCAS dalam laporannya sebelum memberi sertifikat layak terbang bagi pesawat Boeing 737 Max.

Selanjutnya, hal ini tidak menjadi referensi ke sistem manual dan materi bagi pelatihan terbang ke pilot yang akan mengemudikan pesawat Boeing 737 Max.

Atas kelalaian yang fatal itu, Departemen Kehakiman atau Department of Justice (DOJ) Amerika Serikat menjatuhkan hukuman denda senilai 2,5 miliar dollar AS kepada The Boeing Company.

Hukuman kepada Boeing terdiri dari denda sebesar 243,6 juta dollar AS, kompensasi kepada keluarga korban kecelakaan 500 juta dollar AS, dan kompensasi kepada pelanggan maskapai 1,8 miliar dollar AS.

Dari kecelakaan penerbangan JT 610 maskapai Lion Air, juga terungkap adanya penyalahgunaan uang kompensasi yang diperuntukkan bagi keluarga korban oleh pengacara kondang asal Los Angeles, Thomas Girardi.

Pengadilan federal Chicago menuduh Thomas Girardi telah menggelapkan dana ganti rugi milik korban terjatuhnya pesawat Lion Air yang diterima pada musim semi tahun 2020. Boeing telah mentransfer dana yang seharusnya ditujukan kepada korban terjatuhnya pesawat Lion Air kepada firma hukum Girardi Keese.

Girardi juga dituduh telah meneruskan dana tersebut untuk membayar utang senilai jutaan dollar kepada California Attorney Lending, selaku kreditor Girardi Keese. n

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment