Atasi Pandemi, Dunia Perlu Bekerja Sama, Bukan Bersaing | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
Duta Besar Kanada untuk RI, Cameron MacKay

Atasi Pandemi, Dunia Perlu Bekerja Sama, Bukan Bersaing

Atasi Pandemi, Dunia Perlu Bekerja Sama, Bukan Bersaing

Foto : DOK KEDUBES KANADA
A   A   A   Pengaturan Font

Hubungan Indonesia dan Kanada, meski berjarak jauh, tetap berlangsung baik. Banyak mahasiswa Indonesia belajar di Kanada. Sebaliknya, tidak sedikit warga Kanada yang berkunjung ke Indonesia. Kanada dan Indonesia bekerja sama menghadapi pandemi Covid-19 bersama dunia.

Untuk melihat lebih jauh hubungan kedua negara, penanganan pandemi, dan berbagai persoalan lain, wartawan Koran Jakarta, Aloysius Widiyatmaka, mewawa­ncarai Duta Besar Kanada untuk RI, Cameron MacKay. Berikut petikannya.

Bagaimana Yang Mulia menilai hubungan RI-Kanada setelah 68 tahun berjalan?

Kita telah melakukan banyak hal, tetapi juga masih bisa lebih banyak lagi bersama-sama. Pada tahun 1948, upaya diplomatik oleh Duta Besar Kanada untuk PBB, Jenderal Andrew McNaughton, berhasil membantu menyelesai­kan perundingan yang menemui jalan buntu antara Indonesia dan Belanda, sehingga membuka jalan menuju pengakuan internasional atas kedaulatan Indonesia tahun 1949.

Sejak itu, kami telah mengem­bangkan kemitraan yang kuat di ber­bagai bidang seperti perdagangan dan investasi, kesetaraan gender, dan lingkungan. Kita berbagi banyak nilai yang sama, termasuk demo­krasi, keberagaman, rasa hormat, dan inklusivitas. Hal itu membantu kita dapat bekerja sama dengan baik di panggung dunia seperti G20 dan PBB. Tetapi, masih banyak yang bisa kita lakukan.

Apa saja keuntungan kedua belah pihak dalam hubungan tersebut?

Perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan adalah sa­lah satunya. Indonesia adalah pasar ekspor Kanada terbesar di Asia Tenggara tahun 2019. Perdagangan barang dua arah mencapai 3,7 mi­liar dollar Kanada (40,7 triliun ru­piah). Indonesia adalah pelanggan yang penting untuk produk sereal, bubur kayu, pupuk, dan pesawat dari Kanada. Sedangkan Kana­da mengimpor tekstil, elektronik, karet, dan alas kaki dari Indonesia. Terlebih saat kita berusaha memu­lihkan diri dari pandemi Covid-19, kita harus mencari cara agar dapat saling menambah perdagangan dan investasi guna membuka la­pangan pekerjaan.

Kanada juga semakin menjadi tujuan pilihan studi bagi banyak orang Indonesia. Sebelum pan­demi, lebih dari 2.000 WNI belajar di Kanada. Jika Anda melihat biaya dan kualitas pendidikan, jelas ada manfaat nyata belajar di Kanada dibanding negara maju lainnya. Kedutaan Besar kami bekerja keras membantu pelajar Indonesia agar dapat memanfaatkannya. Terakhir, ada keuntungan bagi kedua negara jika bekerja sama secara global. Dalam masalah seperti perubahan iklim, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), kesetaraan gender, atau bahkan tanggap daru­rat seperti yang kita lihat setelah merebaknya Covid-19, kita lebih kuat dan lebih efektif ketika bekerja bersama-sama.

Kerja sama ekonomi sejauh ini menyangkut bidang pemba­ngunan, kehutanan, pertanian, perikanan dan ketenagakerjaan. Adakah sektor/bidang lain yang potensial untuk dikerjasamakan?

Investasi Langsung Kanada di Indonesia pada 2018 sebesar 3,2 miliar dollar Kanada (35,2 triliun rupiah), terbesar kedua di kawas­an Asean, setelah Singapura. Jadi, bisnis Kanada memainkan peranan penting dalam pembukaan la­pangan kerja di sini. Saya terutama sangat senang dapat memperluas kerja sama di bidang infrastruktur, teknologi bersih, dan pendidikan. Sektor-sektor ini merupakan selaras dengan prioritas Indonesia untuk sumber daya manusia dan pem­bangunan infrastruktur, di mana Kanada memiliki keahlian kelas dunia. Umpamanya, saya merasa terhormat menjadi anggota Dewan Pengarah Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia. Kita bekerja sama mengembangkan teknologi dan infrastruktur bersih memerangi polusi plastik, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan.

Sekarang era borderless. Jadi, apakah jarak yang jauh masih menjadi kendala kerja sama RI-Kanada?

Terlebih lagi saat ini – berkat teknologi informasi – satu-satunya hal yang memisahkan kita adalah zona waktu. Orang-orang Kanada dan Indonesia kini hanya dipisah­kan oleh satu klik. Tapi kalau Anda mau menelepon teman Anda di Kanada, jangan lupa kami berada 10–14 jam lebih lambat. Tentu saja kita tidak mengabaikan jarak fisik dan kami sedang berusaha meng­atasinya. Selama pandemi Co­vid-19, Kanada dan Indonesia tetap terkoneksi dengan pesawat terbang melalui bandara penghubung in­ternasional. Pilihan transportasi yang lebih baik telah membantu meningkatkan konektivitas. Di ta­hun 2019, lebih dari 100.000 orang Kanada berkunjung ke Indonesia.

Kanada telah membantu 12,5 miliar rupiah untuk Indonesia selama Covid-19, terima kasih. Mengapa bantuan tersebut harus melalui Red Cross/Unicef?

Secara global, Kanada mem­berikan bantuan terkait Covid-19 melalui organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palang Merah dan Gerakan Bulan Sabit Merah, ter­masuk Federasi Palang Merah In­ternasional (IFRC), dan mitra LSM yang berpengalaman agar kami dapat merespons secara cepat dan efisien. Dukungan Kanada kepada IFRC di Indonesia, yang bekerja sama dengan IFRC dan Palang Merah Indonesia (PMI), membantu dalam penyediaan layanan peman­tauan, mendukung ketersediaan pelindung diri untuk aktivitas berisiko tinggi, melakukan peren­canaan dan analisis risiko. Bantuan Covid-19 Kanada untuk Unicef di Indonesia bertujuan memban­tu anak-anak dan keluarga yang terdampak Covid-19. Di antaranya, cuci tangan dan sanitasi, penye­diaan alat pelindung diri, serta distribusi perlengkapan pendidikan darurat.

Apa yang kurang dari Indone­sia dalam penanganan Covid-19?

Pandemi ini mengejutkan se­mua negara. Kami telah menda­pat banyak pelajaran, di Kanada, Indonesia, dan seluruh dunia. Di Kanada, kami telah melihat keku­rangan cara kami mengelola fasi­litas perawatan jangka panjang dan koordinasi antara berbagai tingkat pemerintahan. Kita perlu menjadi lebih baik dan ini dimulai dengan berlaku jujur terhadap kelemahan serta kesalahan. Menurut saya, negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan melihat tindakan mereka sendiri. Mere­ka mencoba menemukan hal-hal untuk diperbaiki. Kita harus saling membantu dalam prosesnya. Ka­nada dan Indonesia berkoordinasi dengan baik selama tahap awal pandemi.

Data kematian dan terinfeksi Covid-19 di Kanada mungkin ti­dak berbeda jauh dari Indonesia. Bagaimana Kanada menangani Covid-19?

Seperti saya sebutkan, pandemi ini mengejutkan semua. Kami masih berusaha mencari cara menghadapinya dan mengambil pendekatan “seluruh-Kanada.” Juga berkoordinasi sebanyak mungkin berbagai tingkat pemerintahan un­tuk melindungi masyarakat seluruh negeri. Seperti banyak negara, kami telah menutup perbatasan darat dan hanya mengizinkan perjalanan yang penting.

Terpenting, saya pikir, kita telah mencoba belajar sebanyak mungkin tentang pandemi, cara virus menyebar, dan melindungi diri sendiri. Dengan itu, kami ingin memberi saran terbaik kepada warga Kanada berdasarkan penge­tahuan setiap saat. Tentu saja, ini akan berubah seiring kita mengeta­hui lebih banyak. Tetapi, pemerin­tah telah melakukan apa yang kami bisa untuk membuat orang Kanada, baik di dalam maupun luar negeri, mendapat saran terbaru tentang aktivitas seperti mencuci tangan, memakai masker, dan mengisolasi diri.

Bagaimana dunia semestinya menangani Covid-19?

Terpenting, kita perlu bekerja sama, bukan bersaing. Kita perlu mengulurkan tangan, bukan meng­angkat bahu. Pandemi ini berdam­pak pada setiap negara dunia. Saya tidak bisa cukup menekankan pen­tingnya bersikap multilateralisme dalam mengatasinya. Kanada dan Indonesia telah bertindak dengan baik dalam hal ini. Di awal pande­mi, enam bulan lalu, Menteri Luar Negeri Kanada, François-Philippe Champagne, bersama Indonesia dan beberapa negara G20 dan non-G20 membentuk Kelompok Koor­dinasi Multilateral terkait Covid-19. Kelompok ad-hoc ini membantu memfasilitasi pergerakan lintas ba­tas barang, jasa, dan manusia. Juga mempertahankan rantai pasokan yang terbuka dan terhubung, serta memastikan bahwa mereka yang paling membutuhkan mendapat akses ke perawatan medis yang penting.

Sebagai negara kaya, seberapa terdampak ekonomi Kanada atas merebaknya Covid-19? Bagai­mana ekonomi rakyat?

Seperti banyak negara lain di seluruh dunia, ekonomi Kanada juga sangat terpukul oleh pandemi. Dampak Covid-19 di pasar tenaga kerja sangat dramatis. Ada sekitar 5,5 juta warga Kanada atau 30 per­sen tenaga kerja terdampak. Mereka kehilangan pekerjaan atau jam kerja dikurangi. Dampak ini lebih tidak proporsional bagi pekerja di sektor jasa, perempuan, dan mereka yang berpenghasilan rendah. Kanada telah mengambil langkah-langkah yang belum pernah dilakukan untuk meredam dampaknya pada keluarga dan bisnis. Rencana tanggap ekonomi Covid-19 dari Kanada mencakup lebih dari 320 miliar dollar Kanada dalam bentuk bantuan langsung dan pajak serta 600 miliar dollar Kanada dalam bentuk bantuan likuiditas untuk bisnis. Kami optimistis ekonomi akan pulih, mengingat fundamental ekonomi Kanada yang baik dan ren­cana tanggap yang agresif. Kanada memasuki krisis ini dengan neraca yang kuat, rasio utang bersih terha­dap PDB terendah di antara G7.

Pendidikan Kanada termasuk berkualitas. Bagaimana kerja sama pendidikan untuk memaju­kan pendidikan Indonesia?

Kemakmuran Kanada dibangun di atas sistem pendidikan umum kelas dunia. Warga Kanada sangat percaya bahwa semua anak, miskin atau kaya, berhak atas pendidikan yang terbaik. Kami memiliki tradisi panjang program pembelajaran kooperatif, yang membantu para mahasiswa mendapat pengalaman kerja di dunia nyata. Kanada me­miliki dua proyek utama mendu­kung meningkatkan pendidikan RI. Pertama, Pengembangan Pendi­dikan Politeknik (PEDP). Dalam kemitraan dengan Asian Develop­ment Bank, Kanada berkontribusi lima juta dollar Kanada (55 miliar rupiah) hingga Desember 2019. Proyek ini membantu 34 politeknik untuk memberikan program ber­kualitas tinggi guna menanggapi kebutuhan pengusaha di lima sek­tor utama: manufaktur, infrastruk­tur, pertambangan, agroindustri, dan pariwisata.

Proyek ini juga memperkuat hubungan antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan politeknik-politeknik serta pergu­ruan tinggi dan lembaga-lembaga di Kanada. Kami telah melakukan studi banding dan magang di Kana­da. Juga ada kunjungan ke Indone­sia oleh lembaga-lembaga Kanada untuk kegiatan pengembangan kapasitas. Kegiatan ini mencakup kemitraan dengan Marine Institute (MI) dari Memorial University of Newfoundland, South Alberta Insti­tute of Technology (SAIT), Seneca College dan Humber College.

Kedua, Proyek Manajemen Risiko, Keberlanjutan Ekonomi, dan Pengembangan Ilmu Aktuaria, senilai 15,5 juta dollar Kanada (170,5 miliar rupiah). Proyek ini dilaksanakan oleh University of Wa­terloo, Kanada, untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keunggul­an aktuaria regional. Kami bekerja sama dengan berbagai sekolah menengah dan universitas, industri asuransi dan dana pensiun, aso­siasi aktuaria profesional. Proyek tersebut meningkatkan jumlah dan kualitas lulusan ilmu aktuaria Indonesia.

Hasilnya, ada sekitar 2.000 ma­hasiswa terdaftar di jurusan ilmu aktuaria di berbagai universitas mitra. Kemudian, 188 lulusan ilmu aktuaria memperoleh kredensial nasional. Proyek tersebut mem­perkenalkan program pembelaja­ran kooperatif, mengambil model dari University Waterloo.

Ada sekitar 600 ribu maha­siswa asing di Kanada. Mayoritas kuliah apa?

Bisnis dan Teknik adalah dua program yang popular di antara mahasiswa yang belajar di Kanada. Meski demikian, belakangan terjadi peningkatan permintaan untuk program industri kreatif seperti animasi, gaming, program perho­telan, dan kuliner. Kanada terkenal dengan pembelajaran kooperatif yang membantu mahasiswa belajar sambil bekerja di industri terkait dengan bidang mereka.

Kira-kira mengapa mereka tertarik kuliah di Kanada?

Ada banyak keuntungan belajar di Kanada. Salah satu tujuan saya adalah membantu lebih banyak siswa Indonesia memanfaatkan keuntungan ini. Pertama, Kana­da menawarkan pendidikan kelas dunia, ditambah kebebasan untuk mengeksplorasi, bereksperimen, dan berkreasi. Ini akan mem­persiapkan siswa menghadapi kehidupan nyata. Dengan memilih belajar di Kanada, siswa akan me­miliki akses pengalaman pendidik­an yang sangat baik, berakar pada budaya pembelajaran langsung. Rasio siswa-guru lebih kecil, serta teknologi, penelitian, dan inovasi mutakhir. Selain itu, dibanding negara maju lain, biaya sekolah di Kanada jauh lebih murah.

Apa yang ditawarkan Kanada untuk pelajar asing?

Sebagai tujuan studi inter­nasional, Kanada juga menawar­kan kepada siswa internasional masyarakat yang aman, ramah, dan multibudaya yang menghargai keberagaman: bahasa, budaya, dan pengalaman. Siswa internasio­nal berhak untuk bekerja paruh waktu selama belajar. Mereka boleh memilih tinggal dan mencari pekerjaan di Kanada setelah studi selesai, di bawah Program Izin Kerja Pascakelulusan. Pemerintah Kanada juga berinvestasi besar-be­saran dalam kelompok penelitian yang menciptakan lingkungan pe­nelitian inovatif bagi mahasiswa di lembaga-lembaga Kanada. Mereka akan meneliti tantangan besar dunia seperti perubahan iklim, energi bersih, tata kelola global, dan perawatan kesehatan dalam masyarakat yang menua. Lembaga pendidikan Kanada telah me­ngembangkan berbagai program sarjana, diploma, dan sertifikasi berkualitas tinggi untuk meme­nuhi kebutuhan sejumlah besar siswa internasional. n G-1

 

Riwayat Hidup

Nama : Cameron Mackay

Tempat lahir : Prince George, Kanada

Usia : 52 Tahun

Istri : Deidre Kent

Anak : Dua

Pendidikan:

- Sarjana Ekonomi dan Hubungan Industrial di McGill University, Montreal (1990)

- Master Kebijakan Lingkungan di York University,Toronto (1996)

Karier:

- Utusan Tetap Kanada untuk PBB dan WTO (2001-2006)

- Wakil Direktur Biro Perdagangan Global, Kemenlu Kanada (2006-2008)

- Direktur Biro Perdagangan Global, Kemenlu Kanada (2008-2010)

- Direktur Jenderal Kebijakan Perdagangan Tiongkok, Kemenlu Kanda (2010-2012)

- Direktur Jenderal Biro Negosiasi Perdagangan, Kemenlu Kanada

(2013-2015)

- Direktur Jenderal Perdagangan, Kemenlu Kanada (2015-2017)

- Direktur Umum Sekretariat Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan, Kemenlu Kanada (2017-2019)

- Duta Besar Kanada untuk Indonesia (2019-sekarang)

 

BERBAGAI SUMBER/LITBANG KORAN JAKARTA/AND

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment