Ancaman Kelaparan 2021 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 4 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Ancaman Kelaparan 2021

Ancaman Kelaparan 2021

Foto : ANTARA/HO.
Ilustrasi pangan lokal.
A   A   A   Pengaturan Font
Bagi Indonesia sendiri, ancaman kelaparan yang melanda ­penduduk dunia di 2021 ­harusnya bisa dijadikan momentum mereformasi sektor pangan.

Sejak awal pandemi Covid-19, dunia sudah mengkhawatirkan terjadinya kelaparan di berbagai belahan dunia. Lockdown yang dilakukan di beberapa wilayah menyebabkan pergerakan manusia menjadi terhambat, termasuk tenaga kerja yang terkait dalam pasokan rantai makanan. Kalau toh bahan makanan ada, tidak ada jaminan ­makanan tersebut sampai ke daerah yang membutuhkannya karena transportasi juga ikut terganggu. Lockdown juga diperkirakan menyebabkan hilangnya pendapatan yang sangat besar para pekerja miskin.

Pertengahan Juli lalu, World Food Program (Program Pangan Dunia) memperkirakan 265 juta orang penduduk dunia terancam kelaparan pada akhir 2020 akibat pandemi Covid-19. Untuk mencegah bencana tersebut terjadi, dibutuhkan dana sebesar 10,3 miliar dollar AS atau sekitar 151,3 triliun rupiah. Amerika Serikat diharapkan bisa membantu 30 persennya. Sejauh ini, Amerika Serikat telah membantu 1,5 miliar dollar AS atau sekitar 22,04 triliun rupiah.

Untung saja dunia bisa menghindari datangnya bencana kelaparan 2020 yang harusnya terjadi pada masa-masa sekarang ini karena para pemimpin dunia merespons dengan uang paket stimulus serta penangguhan utang bagi negara-negara miskin.

Namun, sekarang ini Covid-19 melonjak lagi, ekonomi terus memburuk terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta ada gelombang penutupan wilayah (lockdown) dan pembatasan sosial lainnya. Ada sekitar 20 negara miskin yang dalam tempo 3–6 bulan ke depan akan mengalami rawan pangan yang amat akut.

Ketua Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), David Beasley, menyatakan institusinya telah mengeluarkan peringatan kepada para pemimpin dunia bahwa tanpa sokongan dana yang ­sepadan maka ancaman kelaparan pada 2021 akan lebih parah daripada kelaparan yang dialami tahun ini.

Beasley, yang organisasinya mendapat penghargaan Nobel Perdamaian 2020 ini, mengatakan bahwa upaya memberantas kelaparan saat ini sudah waktunya dilakukan secara bersama-sama. ­Sayangnya, seruan itu lamban mendapat tanggapan karena perhatian dunia saat ini fokus pada pemberitaan yang didominasi pemilihan presiden AS dan pandemi Covid-19.

Apalagi dana yang tersedia pada 2020 mungkin tidak akan tersedia pada 2021. Oleh karena itu, dalam pidato pemberian anugerah Nobel secara virtual nanti, Beasley akan menyampaikan pesan pada pemimpin dan parlemen serta negara kuat di dunia bahwa dalam 12 atau 18 bulan mendatang diperkirakan akan terjadi tragedi kelaparan yang amat luar biasa.

Terkait masalah pendanaan, WFP membutuhkan dana sebesar 15 miliar dollar AS untuk anggaran tahun depan di mana lima miliar dollar AS dialokasikan untuk mencegah kelaparan dan 10 miliar dollar AS untuk melaksanakan program global WFP, seperti mencegah anak-anak kekurangan gizi dan program makan siang bagi anak sekolah yang sering kali ­merupakan satu-satunya makanan yang didapat anak-anak.

Selain dari pemimpin dunia, dana untuk mencegah ­kelaparan penduduk dunia juga diharapkan dari miliarder dunia. Sudah saatnya bagi mereka yang memiliki banyak uang, yang pundi-pundi bisnisnya bertambah karena Covid-19 seperti bos Amazon, Jeff Bezos, dan bos Tesla, Elon Musk, membantu mereka yang kekurangan.

Bagi Indonesia sendiri, ancaman kelaparan yang melanda penduduk dunia di 2021 harusnya bisa dijadikan momentum mereformasi sektor pangan. Sebab, saat ini setiap negara penghasil komoditas pangan akan memenuhi kebutuhan rakyatnya sehingga ekspor dinomorduakan. Setiap negara terutama negara-negara produsen beras akan lebih memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri, kebutuhan dalam negeri mereka.

Situasi Covid ini marilah kita jadikan momentum. Ambil ini sebagai momentum untuk melakukan reformasi besar-­besaran dalam kebijakan sektor pangan di negara kita. Jangan kehilangan momentum kita. Perkirakan produksi beras pada saat masuk musim kemarau. Juga, cadangan beras nasional cukup untuk berapa lama. Betul-betul harus dihitung. Jangan overestimated. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment