Adaptasi Kedai Kopi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 4 2020
No Comments
EKONOMI

Adaptasi Kedai Kopi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Adaptasi Kedai Kopi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Foto : ANTARA/HO
STRATEGI BISNIS | Penjual tengah melayani pembeli di kedai kopi di Bandarlampung, Lampung, beberapa waktu lalu. Kopi literan menjadi strategi sejumlah kedai kopi di Bandarlampung, Provinsi Lampung bertahan di tengah pandemi Covid-19.
A   A   A   Pengaturan Font

Dunia bisnis terus me­lakukan berbagai ino­vasi agar dapat berta­han di tengah krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi Covid-19. Tak terkecuali, pelaku bisnis kedai kopi di Bandarlam­pung, Provinsi Lampung.

Pembatasan aktivitas ma­syarakat untuk mencegah pe­nyebaran wabah corona vi­rus disease 2019 membuat pe­ngunjung kedai kopi turun drastis atau bahkan sepi. Na­mun, agar bisa bertahan di te­ngah pandemi, pengusaha ke­dai kopi segera beradaptasi. Kopi literan menjadi strate­gi sejumlah kedai kopi di Ban­darlampung saat ini.

“Penjualan kedai ko­pi di Bandarlampung sem­pat mengalami penurunan se­jak pandemi Covid-19,” ung­kap Fany, barista kedai kopi di kawasan Telukbetung, Bandar­lampung, seperti dikutip dari Antara, Jumat (29/11).

Pandemi dinilai telah mengubah hampir keselu­ruhan perilaku konsumen sa­at ini. Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Covid-19 telah membatasi ke­giatan masyarakat.

Fany mengungkapkan, se­belum pandemi Covid-19, biasanya konsumen sering menghabiskan waktu di kedai kopi atau untuk sekedar ber­cengkrama dengan teman atau mengerjakan pekerjaan dite­mani segelas kopi.

Namun, lanjutnya, sejak pemberlakuan kebiasaan ba­ru atau new normal pada Ju­ni lalu, semua usaha kuliner termasuk di Bandarlampung membatasai jumlah pembeli yang makan di tempat.

Menurutnya, salah satu ca­ra mensiasati agar usaha tetap bertahan adalah dengan mem­buat inovasi produk yang diju­al. Inovasi tersebut adalah ko­pi literan. Kopi literan disajik­an dalam botol 1 liter, bertujuan agar pembeli tidak harus datang setiap hari ke kedai kopi untuk menikmati kopi favoritnya.

“Kopi literan ini sangat membantu penjualan kami, sebelumnya penjualan sempat menurun karena pandemi dan semenjak ada kopi literan ini pembeli jadi datang kembali karena cukup membeli sekali”, jelas Fanny.

Hal serupa juga disampai­kan oleh Irwan, barista kedai kopi di daerah Kedaton, Ban­darlampung.

“Sebenarnya kopi literan ini sama saja dengan membeli segelas kopi, bahkan lebih mu­rah karena kopi literan ini bi­sa bertahan selama 3 hari di kulkas,” katanya.

Respons Berbeda

Inovasi kopi literan ini men­dapat respons berbeda dari se­jumlah konsumen di Bandar­lampung.

“Kopi literan ini menurut saya lebih murah karena hanya sekali beli saya bisa minum ko­pi untuk beberapa hari kede­pan”, kata Sindi.

Hal berbeda disampaikan oleh Christiani. Menurutnya, membeli kopi literan jadi lebih boros karena isinya banyak dan sehari bisa minum berkali-kali.

“Kopi literan ini lebih boros karena melihat isinya yang ba­nyak membuat dia ingin mi­num berkali-kali dan kalau ha­bis tetap beli lagi,” tambahnya.

Harga kopi literan sendiri bervariasi tergantung cita rasa yang diinginkan mulai dari 60 ribu rupiah hingga 75 ribu ru­piah per liter. mad/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment