Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Abai Menjaga Objek Vital, Bukti Kinerja Manajemen Pertamina Buruk

25 Senin, 03 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Abai Menjaga Objek Vital, Bukti Kinerja Manajemen Pertamina Buruk Abai Menjaga Objek Vital, Bukti Kinerja Manajemen Pertamina Buruk Doc: ANTARA/ASWADDY HAMID
Ket. KILANG MINYAK PERTAMINA DUMAI TERBAKAR I Sebuah mobil pemadam kebakaran meninggalkan kawasan Kilang Minyak Putri Tujuh Pertamina Refinery Unit (RU) II Dumai seusai memadamkan kebakaran akibat ledakan di area “gas compressor” Kilang Dumai, Riau, Sabtu (1/4). Manajer Humas Pertamina RU II Dumai, Agustiawan menyatakan ledakan dan kebakaran di Kilang Pertamina RU II Dumai Provinsi Riau pada Sabtu (1/4) malam sekitar pukul 22.40 WIB tersebut menyebabkan lima pekerja mengalami luka-luka dan dirawat di RS Pertamina Dumai.

» Kejadian yang berulang menandakan operasional Pertamina tidak sesuai SOP internasional.

» Pertamina setiap selesai kebakaran menyatakan akan melakukan audit investigasi, tapi hasilnya tidak pernah dibuka.

JAKARTA - Belum sebulan setelah Depo Pertamina di Plumpang Jakarta Utara terbakar pada 3 Maret 2023 lalu, kilang minyak Pertamina di Dumai kembali terbakar pada Sabtu malam (1/4) sekitar pukul 22.30 WIB. Kebakaran di Depo Plumpang sendiri tercatat merenggut 19 nyawa, lebih dari 50 orang luka-luka dan ratusan orang mengungsi. Sedangkan kebakaran di kilang Dumai hingga saat ini tercatat sembilan pekerja mengalami luka dan sejumlah bangunan warga rusak ringan akibat ledakan.

Insiden ledakan dan kebakaran di fasilitas Pertamina hampir terjadi setiap tahun dalam tiga tahun terakhir. Pada 7 September 2022, kebakaran juga terjadi di area tangki 107 Integrated Terminal Balongan, di Indramayu. Sedangkan pada akhir Maret 2021, tangki 301 di Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan meledak dan terbakar.

Menanggapi kejadian tersebut, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmi Radi, mengatakan kebakaran kilang Dumai Riau menandakan buruknya kinerja manajemen Pertamina. Padahal, belum genap sebulan insiden tragis di Depo Plumpang, Jakarta Utara.

"Manajemen abai terhadap pengamanan objek vital berisiko tinggi," tegas Fahmi pada Koran Jakarta, Minggu (2/4).

Direksi Pertamina, kata Fahmi, seharusnya ditindak tegas oleh Kementerian BUMN. Kalau perlu dicopot dan akan lebih baik lagi kalau mereka sadar diri untuk mundur. Selain abai, kejadian yang berulang ulang itu menandakan operasional di BUMN minyak dan gas (migas) itu tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP) secara internasional.

Kalau sesuai standar internasional, tidak mungkin kejadiannya berulang seperti saat ini. Sekalipun Pertamina membantah, namun hal itu bisa diperdebatkan, kenapa ada kejadian yang berulang, tetapi tidak ada perbaikan. "Pernah nggak kejadian begini di negara lain misalnya di Arab? Kalau ada percikan api sedikit saja langsung diatasi, beda cerita kalau ada serangan bom. Hanya di Pertamina (RI) yang kebakarannya berulang begini," ungkap Fahmi.

Lebih lanjut, dia mengatakan setiap kali ada kecelakaan, Pertamina seolah sudah siap dengan pernyataan akan melakukan audit investigasi, tetapi hasilnya tidak pernah ketahuan.

"Pertamina tidak pernah menyampaikan hasil audit invesitigasinya, jangan-jangan malah tidak dilakukan. Investigasi Depo Plumpang sampai saat ini belum disampaikan hasilnya, malah kejadian lagi di Dumai," kata Fahmi.

Tidak Kredibel

Pada kesempatan berbeda, pengamat Kebijakan Publik yang juga Direktur Narasi Institut, Achmad Nur Hidayat, mengatakan jajaran manajemen Pertamina harus bertanggung jawab atas ledakan di fasilitas kilang Pertamina. "Mereka bisa dipidana. Kejadian Dumai terakhir, sudah cukup menjadi alasan bagi aparat penegak hukum untuk memidanakan para direksi dan seluruh komisaris Pertamina karena kebijakan abai K3, sehingga kebakaran kembali terjadi," kata Achmad.

Kejadian berulang kebakaran di fasilitas Pertamina menunjukkan seluruh top manajemen Pertamina tidak kredibel. Kalau perusahaan yang mengeklaim sebagai global company tidak kredibel, artinya sudah tidak layak untuk mengemban tanggung jawab.

"Di industri migas sebesar Pertamina, Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 itu kultur utama perusahaan dari atas sampai bawah. Kejadian kebakaran yang berulang menunjukkan memang tidak ada kultur K3, jadi perlu ada perubahan fundamental. Jangan hanya middle management yang diminta tanggung jawab, karena kultur perusahaan itu hanya berubah kalau dimulai dari top level.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Pramono Janji Permudah Urus...
Rona
Menggunakan Vape Merusak Pa...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

25 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.