Rabu, 26 November 2014     
   
  
 
On Screen
  |  Rabu, 11 Desember 2013  02:00:00
dibaca 1864 kali
Sisi Kelam Negara Indonesia

Foto:

Benarkah hukum dapat dibeli? Miris memang, karena tidak peduli betapa lemahnya hukum tersebut, setidaknya harus tetap ada garis pembatas antara keadilan dan ketidakadilan

Nah, bagaimana jika ternyata tindakan kriminal yang dilindungi hukum, walaupun itu digunakan dengan dalih untuk menyelamatkan bangsa? Melalui The Act of Killing, atau Jagal untuk judul Indonesianya, sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer, akan membuka lebar sebelah mata kita ketika dia membeberkan sisi lain dari bagian sejarah terkelam bangsa ini.
   
Anda akan disuguhkan sisi-sisi kelam lain yang tidak mungkin Anda temukan dalam halaman-halaman buku diktat sejarah tebal di sekolah atau di film "wajib" tahunan Orde Baru: Pengkhianatan G30S/PKI garapan Arifin C Noer.
   
So, yang selama ini kita tahu tentang salah satu peristiwa tergelap bangsa ini empat dekade lebih lalu atau tepatnya pada September 1965 adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) secara nekat dan keji menculik dan membantai para Jenderal Besar TNI.
   
Ya, kita mungkin hanya tahu soal peristiwa yang kemudian kita kenal sebagai Gerakan 30 September (G30S/PKI) yang berujung pada Lubang Buaya penuh darah itu, serta kisah-kisah kepahlawanan Jenderal Soeharto.
   
Well, apa yang dilakukan PKI ini memang kejam. Dan seperti yang kita ketahui selanjutnya, Soeharto yang kemudian menjadi Presiden kedua sekaligus Presiden terlama Indonesia kemudian memberikan sebuah doktrin hebat yang mengatakan bahwa PKI adalah musuh negara yang wajib diberantas sampai ke akar-akarnya.
   
Masalahnya, tahukah Anda bahwa apa yang segelintir masyarakat kita lakukan dalam usaha untuk memusnahkan para pengikut komunis itu sama kejamnya, atau bahkan mungkin lebih mengerikan dari yang dilakukan PKI itu sendiri? Ya, upaya sang Jenderal dalam menggulingkan rezim Presiden Soekarno dengan "alibi" G30S PKI itu memang kejam.
   
Bagaimana tidak, para pendukung Soekarno dari partai komunis, buruh dan tani, hingga penduduk etnis Tionghoa secara tidak langsung ikut dilabeli terlibat dalam aksi G30S. Dalam satu tahun, sekitar satu juta penduduk yang dianggap komunis tewas terbunuh. Anehnya, hingga kini masih ada bagian dari operasi tersebut yang masih hidup dengan bebas.
   
Salah satunya adalah Anwar Congo, yang mengaku kalau dia telah membunuh lebih dari 1.000 orang dengan metode mencekik menggunakan kawat. Anwar, salah satu pendiri dari sebuah organisasi paramiliter, Pemuda Pancasila (yang kini dipimpin Yapto Sumarno), ternyata bangga dengan tindakan kejam mereka dahulu karena menganggap perbuatan tersebut sebagai suatu tindakan heroik.
   
Ya, lewat The Act of Killing, Anwar bersama temannya, Herman Koto, dan rekannya sesama eksekutor 38 tahun yang lalu, Adi Zulkadry, mencoba melakukan reka ulang adegan-adegan pembunuhan sadis tersebut.

"The Ordinariness of Evil"

Well, ketika sineas bangsa ini masih terlalu "takut" untuk membuka tabir lama yang kelam itu, maka dibutuhkan orang asing seperti Joshua Oppenheimer untuk mengajak kita kembali melihat ke belakang, tepatnya apa yang terjadi pasca G30S/PKI.
   
Melalui penelitian mendalam dan juga sedikit trik "culas", Joshua akhirnya berhasil mendapatkan kesaksian-kesaksian langsung dari mulut para tukang jagal macam Anwar Congo, seorang mantan preman yang kemudian namanya menjadi terkenal karena kekejamannya membantai 1.000 orang lebih antek-antek PKI dalam sebuah dokumenter "mentah" nan jujur.
   
Dokumenter dua jam ini bisa jadi adalah dokumenter yang paling disturbing sekaligus powerful yang pernah Anda tonton. Disturbing bukan karena ia menawarkan gambar-gambar sadis, namun bagaimana melihat Congo dan kawan-kawannya tampak begitu bangga bak pahlawan dalam menceritakan kembali tindakan kejinya menghabisi para komunis tersebut.
   
Faktanya, itu semua memang pernah terjadi di negeri tercinta kita, tanpa pernah benar-benar kita ketahui. Coba lihat saja ketika Congo menunjukkan bagaimana "tip" membunuh yang efektif tanpa menghamburkan banyak darah di salah satu adegan di atap sebuah bangunan yang juga bekas TKP-nya.
   
Congo melakukan reka ulang yang mungkin inspirasinya dia dapat dari film-film gangster Hollywood tersebut dengan begitu santai, bahkan dia melakukan hal-hal yang sadis itu sambil berjoget ria dan mabuk-mabukan.
   
Namun, ada sisi lain yang menarik ketika Joshua juga meng-capture rasa sesal dan ketakutan dari seorang bengis berdarah dingin seperti Congo. Ya, di masa tuanya, Congo mengaku kerap kali dihantui mimpi-mimpi buruk dan perasaan bersalahnya pada korban, meskipun pada akhirnya kita tahu bahwa kebanggaannya menjadi salah satu bagian sejarah gelap bangsa kita itu lebih besar ketimbang rasa penyesalannya.
   
The Act of Killing juga tidak hanya menceritakan suka duka Congo dan teman-temannya yang masih "aktif" sampai sekarang memalak para pengusaha keturunan China di pasar-pasar Kota Medan, namun juga keterlibatan Pemuda Pancasila (PP) yang sudah berdiri sejak tahun 1959.
   
Ya, di sini, kita akan mengetahui keterlibatan PP dalam pembantaian massal yang terjadi dalam periode 1965–1966. Dan lagi-lagi, para anggotanya maupun sang pemimpin tampak begitu bangga menjadi bagian dari tonggak sejarah, tidak peduli dengan fakta kalau apa yang mereka lakukan itu sebenarnya tidak lebih baik dari kekejaman PKI itu sendiri.
       
The Act of Killing memang tampil seperti versi tandingan Pengkhianatan G30S/PKI-nya Arifin C Noer. Well, mungkin saja ia berakhir sebagai sebuah propaganda semata, mungkin saja tidak. Tetapi, bagaimanapun sulit untuk kemudian bisa menutup mata dari apa yang terungkap di sini, bahwasanya di masa lalu ada rahasia besar yang coba ditutup-tutupi bangsa ini dalam tugas "mulia"-nya menjaga kesatuan NKRI.
       
Film yang kebanyakan shooting-nya dilakukan di Medan ini telah meraih berbagai penghargaan di festival-festival besar macam Toronto Film Festival, Berlin Film Festival, Prague Film Festival, Istanbul Film Fesitval, Danish Academy Award, Documenta Madrid, DocsBarcelona Film Festival, dan masih banyak lagi.
       
Well, memang menjadi sesuatu yang membanggakan ketika film yang merepresentasikan Indonesia bisa diakui di level internasional meskipun dalam kasus film ini adalah aib bagi bangsa kita. Ya, apa yang disajikan Joshua Oppenheimer secara berani, provokatif, jujur, dan blak-blakan, ini seperti menjadi sebuah kenyataan pahit yang pada akhirnya harus kita terima whether you like it or not! (rul)

Title          : The Act of Killing
Director    : Joshua Oppenheimer
Cast          : Anwar Congo
                    Herman Koto
Studio        : Final Cut for Real
Genre         : Documentary, Crime, History
Rating        : ★★★★☆
Release     : 2013
Country      : Norway, Indonesia
Languange   : Indonesian

BERITA TERKAIT

Indonesia Kalah Produktif dari Korsel
REI Protes Aturan KPR Inden
Kepri Tingkatkan Produksi Ikan
Mobil LCGC Pakai Standar Euro 3
Adu Cepat Mobil Sport Multifungsi


BERITA PILPRES


Wajah Jadi Aset Penting Mendukung Karier
Titan Nobatkan Fahry Albar Jadi “Brand Ambassador”
Jika Tak Ada Pemilihan Langsung Tak Akan Ada Jokowi
Megawati Ingatkan Jokowi Penuhi Janjinya pada Rakyat
Hakikat Oposisi Adalah Mengawal Kebijakan Pemerintah


Hubungi Kami Kanal Koran Jakarta Manajemen Follow Us